Wednesday, October 24, 2012

Sekilas Tentang Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil karya Ibn Abi Hatim al-Razi


Oleh Dr. M. Ajaj al-Khathib

Kitab al-Jarhu wa al-Ta’dil  merupakan karya dari Abdurrahman bin Abi Hatim bin Idris al-Handhali al-Razi atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Abi Hatim (240-327H). Kitab ini merupakan salah satu kitab tentang jarh dan ta’dil terbesar yang sampai kepada kita, yang terpadat kandungannya dan yang terkuat hubungannya dengan para kritikus perawi yang dikenal secara lebih luas.

Ibnu Abi Hatim berguru kepada ayahnya, Abu Hatim Muhammad bin Idris al-Razi, dan kepada Abu Zur’ah Ubaidillah bin Abdul Karim al-Razi. Kedua orang ini termasuk angkatan imam al-Bukhari. Dari kedua orang ini, Ibnu Abi Hatim belajar ilmu jarh dan ta’dil, dan memperoleh banyak bekal untuk menyusun kitabnya. Ia berusaha keras mengemukakan seluruh penegasan para imam hadits tentang penilaian ta’dil dan jarh terhadap para perawi dan memberi keterangan tambahan dalam banyak hal tentang riwayat hidup yang jarang disebutkan oleh kalangan ulama sebelumnya. Ia juga mengoreksi sebagian riwayat hidup yang disebutkan oleh al-Bukhari.

Kitab Ibnu Abi Hatim menghimpun penegasan ayahnya tentang jarh dan ta’dil, penegasan Abu Zur’ah dan penegasan al-Bukhari. Namun ia merasa tidak perlu kepada penegasan al-Bukhari karena sama dengan penegasan ayahnya. Ia menyelusuripenegasan para imam hadits. Dari ayahnya dan Muhammad bin Ibrahim bin Syu’aib, ia mengambil hal-hal dari Amr bin al-Falas. Ia juga mengambil pendapat yang diriwayatkan dari Abdurrahman al-Mahdi (135-198 H) dan Yahya bin Sa’id al-Qaththan (120-198 H) yang merupakan hasil ijtihad kedua tokoh itu. Demikian pula pendapat yang diriwayatkan dari Sufyan al-Tsauri (97-161 H) dan Syu’bah bin Hajjaj (82-160 H). Dari Shalih bin Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abi Hatim mengambil pendapat yang diriwayatkan dari ayahnya. Dari Shalih dan Muhammad bin Ahmad al-Barra’, ia mengambil pendapat yang diriwayatkan oleh keduanya dari Ali bin al-Madini (161-234 H) yaitu yang merupakan hasil ijtihadnya sendiri. Juga pendapat yang diriwayatkan oleh al-Madini dari Sufyan bin Uyainah (107-198 H), Abdurrahman bin Mahdi, dan Yahya bin Sa’id al-Qaththan.

Ibnu Abi Hatim bertemu dengan seluruh shahabat Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in (158-233H). Ia meriwayatkan pendapat ayahnya dari keduanya, dari ishaq bin Manshur, dari Yahya bin Ma’in. Ia juga meriwayatkan pendapat dari selain mereka, misalnya pendapat Abbas ad-Dauri (wafat tahun 271 H).

Oleh karena itu, Kitab Ibnu Abi Hatim dipenuhi oleh penilaian para pakar ilmu jarh dan ta’dil. Kitab ini mengungguli kitab Tarikh al-Kabir karya al-Bukhari karena dalam kitab itu al-Bukhari sedikit sekali menyebut jarh dan ta’dil. Namun hal itu tidak mengurangi nilai kitab al-Bukhari karena al-Bukhari mungkin sengaja melakukan demikian dengan pertimbangan, ia telah menyusun suatu kitab sendiri tentang perawi yang lemah (yaitu kitab adh-Dhu’afa –red).

Ibnu Abi Hatim menyusun kitabnya sesuai dengan urutan huruf dalam kamus berdasarkan huruf pertama suatu nama. Maka pada bab alif terdapat bab Ahmad, bab Ibrahim, bab Ayyub, bab Adam dan seterusnya. Jika pada suatu bab terdapat banyak riwayat hidup yang harus disebutkan, ia menyusunnya sendiri menjadi bab-bab berdasarkan permulaan nama ayah masing-masing. Maka pada bab orang-orang yang bernama Ahmad, ia mendahulukan Ahmad yang permulaan nama ayahnya berhuruf alif, lalu nama Ahmad yang permulaan nama ayahnya berhuruf ba, dan seterusnya. Jika pada bab yang sama terdapat banyak riwayat hidup yang harus disebutkan, ia menyusunnya berdasarkan nama ayah dan kakek masing-masing, sebagaimana yang dilakukannya terhadap orang bernama Muhammad dengan nama ayah Abdullah.

Semuanya itu, oleh Ibnu Abi Hatim dituangkan dalam empat juz besar yang menghimpun 18.050 riwayat hidup. Ia menyebutkan setiap perawi dan pendapat orang tentang perawi tersebut berdasarkan isnad yang shahih. Kitab itu diawali dengan Muqaddimah yang merupakan satu juz tersendiri, diberi judul Taqdimatul Ma’rifah li Kitabil Jarh wat Ta’dil. Di dalam mukadimah ini ia berbicara tentang ilmu jarh dan ta’dil dan menjelaskan riwayat hidup para pakar ilmu tersebut. Kitabnya merupakan satu-satunya kitab yang bernilai tinggi dalam bidang jarh dan ta’dil yang dibutuhkan oleh setiap ilmuwan bidang hadits dan ‘ulumul hadits.

Kitab karya Ibnu Abi Hatim ini dicetak di India pada tahun 1373 H dalam sembilan jilid. Satu jilid untuk Muqaddimah dan dua jilid untuk setiap juz dari empat juz kitab itu

Sumber : Buku “Hadits Nabi Sebelum Dibukukan” (al-Sunnah Qabl al-Tadwin), Oleh Dr. M. Ajaj Al-Khathib. Penerjemah AH. Akrom Fahmi. Terbitan Gema Insani Press. Jakarta. Cet-1/Shafar 1420 H

No comments:

Post a Comment