Friday, July 20, 2012

Tafsir al-Kasysyaf - karya al-Zamakhsyari

Kitab Tafsir al-Khasysyaf ialah karya Abu Qasim Mahmud bin Umar al-Khawarizmi al-Zamakhsyari. Ia lahir 27 Rajab tahun 487 H di Zamakhsyari, dan wafat pada tahun 538 H di Jurjaniyah. Kata Zamakhsyari pada hujung namanya dinisbahkan kepada desa Zamakhsyar di Khawarizmi, desa kelahiranya, ia bergelar Jarullah. Tafsir al-Kasysyaf adalah salah satu buah pena Zamakhsyari yang ditulis selama tiga tahun di Makkah al-Mukaramah atas permintaan Abu Hasan Ali Ibnu Hamzah.

 Tafsir ini ditulis berdasarkan susunan mushaf (tahlili), corak tafsirnya termasuk tafsir bil-ra’yi. Tafsir ini di dalamnya penuh dengan romantika balghah (kajian pilologi) serta kental dengan unsur-unsur teologi Mu’tazilah. Tafsir ini termasuk tafsir apologis, yang menjadikan Qur’an sebagai alat legitimasi demi kepentingan peribadi, mazhab dan golongan.

 Pengaruh teologi mu’tazilah dalam tafsir al-Kasyaf telah dikaji oleh para ulama. Di antara ulama yang telah berhasil menjelaskan dan membukukan teologi mu’tazilah dalam tafsir al-Kasyaf adalah:

  1. Allamah Ahmad An-Nayyir, dalam kitab al-Intishaf.
  2. .al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, dalam As-Syafi fi Takhrij Ahadisil Kasysyaf.
  3. Syeikh Muhammad Ulyan al-Marzuki, dalam Hasyiyah Tafsir al-Kasysyaf dan Masyahidah Inshaf ‘Ala Syawahidil Kasysyaf.
Empat buah kitab ini telah dilampirkan pada tafsir al-Kasysyaf yang diterbitkan oleh al-Maktabah al-Tijariyah Makkah oleh Mustaufa Muhsin Ahmad.

Pengarangnya memberikan dua sifat dan dia sebutkan kedua sifat itu tanpa ragu. Sifat pertama adalah tafsir yang beraliran mazhab mu’tazilah. Bahkan, pengarangnya sendiri sampai mengatakan: “ Apabila kamu ingin minta izin dengan pengarang al-Kasysyaf ini maka sebutlah namanya dengan Abul Qosim al-Mu’tazili”.

Dari kalimat pertama dalam tafsir ini sudah menunjukkan adanya indikasi tentang Mu’tazilah. Dari pertama sampai akhir. Imam Zamakhsyari selalu berpegang dengan mazhab Mu’tazilah dalam penfsirannya. Padahal al-Quran bukanlah sebuah kitab mazhab. Apabila al-Quran ditafsirkan dengan landasan sebuah aliran maka nilai kemurniannya sudah hilang. Maka dari itulah al-Kasysyaf mendapat banyak kritikan dari para ulama Ahlusunnah.

Sifat kedua yang dimiliki tafsir ini adalah keutamaan dalam nilai bahasa ‘Arab, baik dari segi I’zaj al-Quran, Balaghah, dan Fashahah, sebagai bukti jelasnya Al-Quran diturunkan dari sisi Allah SWT. Bukan buatan manusia dan mereka tidak akan mampu meniru seumpamanya sekalipun mereka saling tolong-menolong dalam melakukannya. Dalam hal ini, Imam Zamakhsyari sangat mempersiapkannya dengan matang sebelum beliau mengarangnya.

Ada beberapa kelemahan yang terdapat dalam kitab al-Kasyaf, antara lain: Dalam setiap tafsir ayat al-Quran tidak ada pengaruh batin yang didapatkan oleh pengarang. Dalil-dalil ayat tersebut tidak bisa memalingkannya kepada kebenaran, bahkan Zamakhsyari memalingkan makna tidak sesuai dengan zahirnya. Ini merupakan mengada-ada kalam Allah SWT. Lebih baik seandainya sedikit saja, tetapi pada kenyataannya dia membahasnya secara panjang lebar agar tidak dikatakan lemah dan kurang. Dalam hal ini, dapat kita lihat bahwa penafsiran dalam kitab itu bercampur dengan pengaruh aliran mu’tazilah. Ini adalah pengaruh cacat yang sangat besar.

Kritikan lain terdapat pada pencelaan Imam Zamakhsyari terhadap para wali Allah SWT. Hal ini karena ia lupa tehadap jeleknya perbuatan ini, dan karena tidak mengakui adanya hamba Allah SWT seperti itu. Alangkah indah ungkapan Imam al-Razi dalam kritikannya kepada al-Zamakhsyari tehadap yang demikian. al-Razi berkata dalam tafsir ayat “Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya (QS al-Maidah [5]:54) “Dalam hal ini, pengarang al-Kasysyaf telah menceburkan dirinya dalam kesalahan dan bahaya karena telah mencela kekasih Allah SWT dan telah menulis sesuatu yang tidak layak dan sesuatu kejelekan terhadap mereka yang dicintai Allah SWT. dia sangat berani melakukan hal ini, padahal tulisan ini dia lakukan ketika menafsirkan ayat-ayat Allah SWT yang Majid”.

Kritikan lainnya adalah penyebutan Ahlusunnah dangan kata-kata kotor. Terkadang disebut dengan golongan mujabbaroh (pemaksa), bahkan terkadang dikatakan dengan kaum kafir dan kaum yang menyimpang. Padahal ucapan seperti ini hanya pantas keluar dari golongan mereka yang bodoh, bukan dari ulama yang pintar.


Manhaj fi kitab al- Kasysyaf

Tafsir al-Kasysyaf adalah salah satu kitab tafsir bi al-ra’yi yang terkenal, yang dalam pembahasannya menggunakan pendekatan bahasa dan sastera. Penafsirannya kadang-kadang ditinjau dari arti mufradat yang mungkin, dengan merujuk kepada ucapan-ucapan orang Arab terhadap syair-syairnya atau definisi istilah-istilah yang populer. Kadang penafsirannya juga didasarkan pada tinjauan gramatika atau nahwu.

Kitab tafsir ini merupakan salah satu kitab tafsir yang banyak beredar di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu kitab tafsir yang penafsirannya didasarkan atas pandangan Mu'tazilah, ia dijadikan corong oleh kalangan Mu’tazilah untuk menyuarakan fatwa-fatwa rasionalnya. Al-Fadhil Ibnu ‘Asyur berpendapat bahwa al-Kasysyaf ditulis antara lain untuk menaikkan kedudukan Mu’tazilah sebagai kelompok yang menguasai balaghah dan ta’wil.

Namun demikian, kitab ini telah diakui dan beredar luas secara umum di berbagai kalangan, tidak hanya di kalangan non-Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga di kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah. Ibnu Khaldun misalnya, ia mengakui keistimewaan al-Kasysyaf dari segi pendekatan sastera (balaghah)-nya dibandingkan dengan sejumlah karya tafsir ulama mutaqaddimin lainnya. Menurut Muhammad Zuhaili, kitab tafsir ini yang pertama mengungkap rahasia balaghah al-Qur'an, aspek-aspek kemukjizatannya, dan kedalaman makna lafaz-lafaznya, di mana dalam hal inilah orang-orang Arab tidak mampu untuk menentang dan mendatangkan bentuk yang sama dengan al-Qur’an. Lebih jauh, Ibnu ‘Asyur menegaskan bahawa majoriti pembahasan ulama Sunni mengenai tafsir al-Qur’an didasarkan pada tafsir al-Zamakhsyari. al-Alusi, Abu al-Su’ud, al-Nasafi, dan para mufassir lain merujuk kepada tafsirnya.

al-Zamakhsyari melakukan penafsiran secara lengkap terhadap seluruh ayat Al-Qur'an, dimulai ayat pertama surah al-Fatihah sampai dengan ayat terakhir surah an-Nas. Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa penyusunan kitab tafsir ini dilakukan dengan menggunakan metode tahlili, yaitu suatu metode tafsir yang menyoroti ayat-ayat Al-Qur'an dengan memaparkan segala makna dan aspek yang terkandung di dalamnya sesuai urutan bacaan dalam mushaf Utsmani. al-Zamakhsyari sebenarnya tidak melaksanakan semua kriteria tafsir dengan metode tahlili, tetapi karena penafsirannya melakukan sebahagian langkah-langkah itu, maka tafsir ini dianggap menggunakan metode tafsir tahlili.

Aspek lain yang dapat dilihat, penafsiran al-Kasysyaf juga menggunakan metode dialog, di mana ketika al-Zamakhsyari ingin menjelaskan makna satu kata, kalimat, atau kandungan satu ayat, ia selalu menggunakan kata in qulta (jika engkau bertanya). Kemudian, ia menjelaskan makna kata atau frase itu dengan ungkapan qultu (saya menjawab). Kata ini selalu digunakan seakan-akan ia berhadapan dan berdialog dengan seseorang atau dengan kata lain penafsirannya merupakan jawaban atas pertanyaan yang dikemukakan. Metode ini digunakan karena lahirnya kitab al-Kasysyaf dilatarbelakangi oleh dorongan para murid al-Zamakhsyari dan ulama-ulama yang saat itu memerlukan penafsiran ayat dari sudut pandang kebahasaan, sebagaimana diungkapkan sendiri dalam muqaddimah tafsirnya;

"Sesungguhnya aku telah melihat saudara-saudara kita seagama yang telah memadukan ilmu bahasa Arab dan dasar-dasar keagamaan. Setiap kali mereka kembali kepadaku untuk menafsirkan ayat al-Qur'an, aku mengemukakan kepada mereka sebagian hakikat-hakikat yang ada di balik hijab. Mereka bertambah kagum dan tertarik, serta mereka merindukan seorang penyusun yang mampu menghimpun beberapa aspek dari hakikat-hakikat itu. Mereka datang kepadaku dengan satu usulan agar aku dapat menuliskan buat mereka penyingkap tabir tentang hakikat-hakikat ayat yang diturunkan, inti-inti yang terkandung di dalam firman Allah dengan berbagai aspek takwilannya. Aku lalu menulis buat mereka (pada awalnya) uraian yang berkaitan dengan persoalan kata-kata pembuka surat (al-fawatih) dan sebagian hakikat-hakikat yang terdapat dalam surah al-Baqarah. Pembahasan ini rupanya menjadi pembahasan yang panjang, mengundang banyak pertanyaan dan jawaban, serta menimbulkan persoalan-persoalan yang panjang".

Penyusunan kitab tafsir al-Kasysyaf tidak dapat dilepaskan dari atau merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang pernah disusun oleh para mufassir sebelumnya, baik dalam bidang tafsir, hadis, qira’at, maupun bahasa dan sastra.

Dari kajian yang dilakukan oleh Musthafa al-Juwaini terhadap kitab tafsir al-Kasysyaf tergambar delapan aspek pokok yang dapat ditarik dari kitab tafsir itu, iaitu:

1. al-Zamakhsyari telah menampilkan dirinya sebagai seorang pemikir Mu’tazilah;
2. Penampilan dirinya sebagai penafsir atsari, yang berdasarkan atas hadis Nabi;
3. Penampilan dirinya sebagai ahli bahasa;
4. Penampilan dirinya sebagai ahli nahwu;
5. Penampilan dirinya sebagai ahli qira’at,
6. Penampilan dirinya sebagai seorang ahli fiqh,
7. Penampilan dirinya sebagai seorang sastrawan, dan
8. Penampilan dirinya sebagai seorang pendidik spiritual.


Dari ke lapan aspek itu, menurut al-Juwaini, aspek penampilannya sebagai seorang Mu’tazilah dianggap paling dominan. Apa yang diungkapkan oleh al-Juwaini di atas menggambarkan bahwa huraian-huraian yang dilakukan oleh al-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya banyak mengambarkan berbagai pandangan yang mendukung dan mengarah pada pandangan-pandangan Mu'tazilah.

Begitu juga halnya dengan al-Zarqani yang menguatkan asumsi itu. Namun demikian, ia juga mencatat beberapa keistimewaan yang dimiliki tafsir al-Kasysyaf, antara lain: Pertama, terhindar dari cerita-cerita israiliyyat; Kedua, terhindar dari uraian yang panjang; Ketiga, dalam menerangkan pengertian kata berdasarkan atas penggunaan bahasa Arab dan gaya bahasa yang mereka gunakan; Keempat, memberikan penekanan pada aspek-aspek balaghiyyah, baik yang berkaitan dengan gaya bahasa ma’aniyyah maupun bayaniyyah; dan Kelima, dalam melakukan penafsiran ia menempuh metode dialog.

Faham kemu’tazilahan al-Zamakhsyari dalam tafsirnya membuktikan kecerdasan, kecemerlangan dan kemahirannya. Ia mampu mengungkapkan isyarat-isyarat yang jauh agar terkandung di dalam makna ayat guna membela kaum Mu’tazilah dan menyanggah lawan-lawannya. Tetapi dari aspek kebahasaan ia berjasa telah menyingkap keindahan al-qur’an dan daya tarik balaghahnya. Hal ini karena dia memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang ilmu balaghah, bayan, nahwu dan sharaf.

Dia pernah menyatakan bahwa orang yang menaruh perhatian terhadap tafsir tidak akan dapat menyelami hakikatnya sendiri kecuali jika dia telah menguasai dua ilmu khusus bagi al-Qur’an iaitu, ilmu ma’ani dan ilmu bayan. Zamakhsyari telah cukup lama menyelami keduanya, bersusah payah dalam menggalinya, menderita karenannya serta di dorong oleh cita-cita luhur untuk memakahi kelembutan-kelembutan hujjah Allah dan oleh hasrat ingin mengetahui mukjizat Rasulullah.

Ibnu Khaldun memberikan analisa dan penilaian terhadap al-Khasysyaf karya Zamakhsyari tersebut di saat membicarakan tentang rujukan tafsir mengenai pengetahuan tentang bahasa, I’rab, dan balaghah. Dia mengatakan:

“ Di antara kitab tafsir paling baik yang mencakup bidang tersebut ialah kitab al-Khasysyaf karya Zamakhsyari, seorang penduduk khawarizm di Irak. Hanya saja pengarangnya termasuk pengikut fanatik Mu’tazilah. Karena itulah ia senantiasa mendatangkan argementasi-argumentasi untuk membela mazhabnya yang rusak setiap ia menerangkan ayat-ayat al-Quran dari segi balaghah. Cara demikian bagi para penyelidik dari kaum ahli sunnah dipandang sebagai penyimpangan dan, bagi jumhur, merupakan manipulasi terhadap rahasia dan kedudukan al-Quran. Namun demikian mereka tetap mengakui kekokohan langkahnya dalam hal berkaitan dengan bahasa dan balaghah. Tetapi jika orang membacanya tetap berpijak pada mazhab sunni dan menguasai hujah-hujahnya, tentu ia akan selamat dari perangkap-perangkapnya. Oleh karena itu, kitab tersebut perlu di baca mengingat keindahan dan keunikan seni bahasanya ”.


Link artikel berkaitan:

1.      al-Kasysyaf karya al-Zamakhsyari


2.      Pengaruh Teologi Mu’tazilah Dalam Tafsir al-Kasysyaf.


3.      Muktazilah Dan Mauqif Penafsiran Mereka Terhadap Al-Quran ...


4.      Metodologi al-Zamakhsyari dalam kitab al-Kasysyaf



Download tafsir ini dalam format PDF : التحميل

No comments:

Post a Comment

Bahjah al-Nufus wa Ghayatuha (بهجة النفوس وغايتها)

Kitab Bahjah al-Nufus wa Ghayatuha [1] bi Ma'rifati Ma Laha wa 'Alaiha ( بهجة النفوس وغايتها بمعرفة ما لها وما عليها ) merupa...