Saturday, April 13, 2013

al-Jami' Li Syu'ab al-Iman dan Mukhtasharnya


Ketika saya mula membaca buku terjemahan kitab Mukhtashar Syu’ab al-Iman (مختصر شعب الإيمان ) iaitu terjemahan karya Imam al-Qazwaini al-Syafi’i yang diterbitkan oleh Pustaka Azzam dari Indonesia dengan judul Ringkasan Syu’abul Iman, saya berazam untuk memaparkan pengenalan ringkas kitab ini dalam blog karya ulama ini. Ketika saya mencari maklumat kitab ini di alam cyber, saya dapati ada satu artikel yang membicarakan mengenai kitab Mukhtashar Syu’ab al-Iman dan kitab induknya iaitu Kitab al-Jami’ Li Syu’ab al-Iman karya al-Imam al-Bayhaqi. Kita ikuti artikel tersebut yang saya ambil dari pautan di bawah tanpa sebarang perubahan teksnya. http://adabuna.blogspot.com/2012/05/77-karakter-manusia-unggul-dalam-kitab.html 

Bismillahirrahmanirrahim.

Diantara khazanah klasik yang sangat menarik adalah karya-karya yang memaparkan karakter manusia-manusia unggul. Tentu saja, yang dimaksud disini adalah unggul menurut ukuran dan kriteria Islam, bukan peradaban industri yang berpijak pada materialisme semata. Salah satu karya paling komprehensif di bidang ini adalah al-Jami’ li Syu’abi al-Iman, karya al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa al-Khasrujardi al-Baihaqi (lh. 384 H, w. 458 H), atau kita biasa menyebutnya Imam al-Baihaqi saja. Karya ini merupakan salah satu kutub al-mutun atau literatur induk di bidang hadits, karena isi kandungannya yang sangat luar biasa dan seringkali memiliki jalur-jalur periwayatan tersendiri yang berbeda dengan karya lain. Dalam Ilmu Hadits, perbedaan jalur ini sangat penting, karena bisa dipergunakan untuk memeriksa otentisitas riwayat melalui metode perbandingan.

Judul kitab ini berarti “Kumpulan Cabang-cabang Iman”,yang didasarkan pada hadits riwayat Bukhari-Muslim yang menyatakan bahwa iman memiliki cabang lebih dari 60, atau lebih dari 70. Imam al-Baihaqi, berbekal penguasaan beliau terhadap tafsir, hadits, atsar, dan ilmu-ilmu lainnya, kemudian menelusuri cabang-cabang-cabang tersebut dan mengumpulkannya dalam sebuah karya besar. Dari penelusuran tersebut, beliau menemukan 77 cabang, yang seluruhnya didukung oleh ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, dan atsar. Ketika menyadari kehebatan karya ini, Ustadz Muhaimin Iqbal, pemimpin Gerai Dinar, pernah menyebutnnya sebagai “77 Habits : More Then Just Highly Effective People…” (77 Kebiasaan: Lebih dari Sekedar Orang-orang yang Sangat Efektif). Beliau merujuk pada buku-buku Steven R. Covey yang berjudul The Seven Habits of Highly Effective People, dan kemudian dilengkapi oleh The 8th Habits. Hanya saja, bagi pembaca modern – apalagi kaum awam – karya Imam al-Baihaqi ini memiliki “kekurangan”, yakni ukurannya yang sangat tebal dan metode penyitiran sanad-nya yang sangat detil. Sebagai gambaran, salah satu edisi modern kitab ini diterbitkan pada tahun 2003 oleh Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, dalam 14 juz (termasuk indeks), dengan ketebalan total diatas 7.820 halaman. Menurut penghitungan para editornya, kitab ini memuat tidak kurang dari 10.752 riwayat, dari berbagai jenis dan tingkatan. Selain itu, betapa sering beliau menyitir tiga atau empat baris rangkaian isnad, padahal riwayat yang dinukil hanya beberapa kata saja, atau sama dengan riwayat sebelumnya. Tentu saja, nilai-nilai agung dalam karya ini seperti berada diatas menara gading, indah namun tidak membumi. Bahkan, hampir bisa dipastikan, sangat sedikit diantara kita yang memiliki copy naskahnya, apalagi yang telah tuntas menelaahnya. 

Kenyataan ini disadari sepenuhnya oleh al-Qadhi Abul Ma’ali‘Umar bin Sa’duddin Abul Qasim ‘Abdurrahman bin Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad bin Muhammad al-Qazwini asy-Syafi’i (lh. 653 H, w. 699 H). Maka, beliau pun memburu keberadaan naskah asli kitab tersebut, mengambil bacaannya dari dua jalur, lalu membawanya ke Damaskus. Setelah tuntas mengkaji kitab yang – pada masa itu – dicatat dalam 6 jilid besar, beliau bertekad meringkasnya, sebab: “…saya mendapati (cabang-cang iman) itu terpencar-pencar pada seluruh kitab. Beliau tidak mengumpulkannya terlebih dahulu pada kata pengantar dan tidak pula pada jilid pertama. Beliau langsung berfokus untuk merinci penjelasan cabang-cabang iman itu, namun beliau memencarnya di seluruh kitab. Maka, didorong oleh kebutuhan, saya pun mengumpulkannya dan meringkasnya sebagai pokok-pokok persoalan. Saya mencukupkan diri dengan menyitir satu ayat dari Kitabullah, atau satu hadits yang paling shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam beberapa cabang iman, terkadang saya menambahkan satu atau beberapa ayat; atau satu hadits; atau beberapa kalimat; satu atau beberapa kisah; satu atau beberapa bait syair; yang tidak disebutkan oleh Imam al-Baihaqi. Saya telah membaginya menjadi 77 bab.” 

Kitab terakhir ini diberi judul Mukhtashar Syu’abul Iman, dan menjadi intisari luar biasa dari karya lain yang juga luar biasa. Bayangkan, kitab setebal lebih dari 7.820 halaman berhasil diringkas menjadi 176 halaman saja (sudah termasuk pengantar, indeks, apendiks, dan daftar isi). Menurut hemat kami, peringkasan ini samasekali tidak menghilangkan tujuan utama penyusunannya! Salah satu edisi modern dari karya ini diterbitkan oleh Dar Ibnu Katsir, Damaskus-Beirut, tahun 1985, yang diedit dan di-takhrij oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Arna’uth. Tentu saja, kitab Mukhtashar ini tidak lagi memuat deretan-deretan sanad yang panjang, namun cukup disitir nama Sahabat dan sumber aslinya dari kitab induk hadits tertentu. Syaikh al-Arna’uth kemudian merujukkan lokasi dari sumber-sumber asli tersebut, dan menyebutkan status sanad-nya, sehingga nilai ilmiahnya semakin tinggi tanpa harus bertele-tele mengikuti analisis para Ahli Hadits. Tentu saja, kitab ini sangat cocok bagi kita kaum awam yang terkadang “merasa tidak punya cukup waktu” untuk meng-upgrade keimanan kita dengan menambah ilmu dari sumber-sumber terpercaya. Menurut hemat kami, daripada membaca ulasan karakter manusia unggul yang bersumber dari penulis-penulis Barat, seribu kali jauh lebih baik kita menelaah karya ini. Ada banyak faidah sekaligus, seperti mendekatkan dengan Kitabullah, karena di dalamnya banyak disitir ayat-ayat Al-Qur’an; kemudian mendengarkan wejangan Rasulullah melalui hadits-hadits beliau. Membaca ayat dan menelaah hadits jelas bernilai ibadah dan mengandung dzikir, sesuatu yang tidak akan kita dapatkan dari karya-karya berbasis psikologi materialis-sekuler yang seringkali anti-tuhan, menolak metafisika, dan tidak sedikit pun berbicara tentang akhirat. Karya ini juga disertai syair, kisah dan kalimat hikmah dari para ulama’ yang mengabdikan hidupnya untuk Allah, bukan manusia-manusia yang menyembah dunia dan menjadi budak materi. 

Mengapa kami menilai karya ini sangat bagus untuk ditelaah? Sebab, selain ukurannya yang ringkas, maka seperti dinyatakan al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuiddin, bahwa diantara metode terbaik untuk menguatkan iman adalah membaca Al-Qur’an dan tafsirnya, mendengar hadits dan maknanya, menunaikan tugas-tugas ibadah, dan bergaul atau mengenal kisah orang-orang shalih. Kisah dan kata-kata orang yang tidak beriman kepada Allah, apalagi yang memusuhi-Nya, tentu tidak akan steril dari keyakinan mereka. Bukankah keyakinan yang melatari setiap hati pasti terefleksikan melalui kata-kata dan tindakan pemiliknya? Nah, kitab ini telah memuat tiga diantaranya: ayat, hadits, dan kisah. Sebelum menutup ulasan ringkas ini, kami pikir ada baiknya jika 77 cabang iman tersebut disitir sekarang, sebagai gambaran ringkas. Siapa tahu, sebagian besar sudah kita laksanakan, sehingga kita semakin termotivasi untuk menggenapkan cabang-cabang lainnya, dan kemudian diberkahi menjadi manusia yang berkarakter unggul, dengan izin Allah.

1. Beriman kepada Allah ta'ala.
2. Beriman kepada para Rasul Allah 'alaihim as-salaam.
3. Beriman kepada para malaikat Allah.
4. Beriman kepada Al-Qur'an dan semua kitab yang terdahulu.
5. Beriman kepada qadar (ketentuan) dari Allah, yang baik maupun yang buruk.
6. Beriman kepada hari akhir.
7. Beriman kepada kebangkitan setelah kematian.
8. Beriman bahwa manusia akan dikumpulkan (di mahsyar) setelah mereka dibangkitkan, sampai mereka dipanggil satu per satu menghadap Allah.
9. Beriman bahwa tempat tinggal kaum beriman di akhirat adalah surga, sementara tempat tinggal kaum kafir adalah neraka.
10. Beriman kepada wajibnya mahabbah (mencintai) Allah ta'ala.
11. Beriman kepada wajibnya khauf (merasa takut) kepada Allah ta'ala.
12. Beriman kepada wajibnya raja' (berharap) kepada Allah ta'ala.
13. Beriman kepada wajibnya tawakkal (bersandar) kepada Allah ta'ala.
14. Beriman kepada wajibnya mencintai Nabi shalla-llahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
15. Beriman kepada wajibnya mengagungkan, menghormati dan memuliakan Nabi shalla-llahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
16. Tidak rela melepas agamanya, sampai tingkatan lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada menjadi kafir.
17. Mencari ilmu.
18. Menyebarkan ilmu.
19. Mengagungkan Al-Qur'an, yakni dengan mempelajari, mengajarkan, memelihara batas-batas serta hukum yang ditetapkannya, memahami halal-haramnya, menghormati ahli Al-Qur'an dan para hafizh-nya, menangis tatkala mendengar janji dan ancaman Allah di dalamnya.
20. Bersuci.
21. Shalat lima waktu.
22. Zakat.
23. Puasa.
24. I'tikaf.
25. Hajji.
26. Jihad.
27. Berjaga di medan perang (ribath) di jalan Allah ta'ala.
28. Teguh menghadapi musuh dan tidak melarikan diri (desersi) dari medan perang.
29. Bagi yang mendapat ghanimah, menyerahkan seperlima darinya untuk imam dan para pejabat yang ditunjuk untuk mengumpulkannya.
30. Memerdekakan budak semata-mata mengharap wajah Allah ta'ala.
31. Menunaikan kaffarat yang wajib bagi yang melanggar hukum jinayat.
32. Memenuhi janji.
33. Menghitung-hitung nikmat Allah dan mensyukurinya.
34. Menjaga lisan dari hal-hal yang tidak ada perlunya.
35. Menjaga amanat dan menunaikannya kepada yang berhak.
36. Mengharamkan pembunuhan dan tindakan jinayat kepada siapapun.
37. Mengharamkan kemaluan dari hal terlarang dan berusaha mejaga kehormatan diri.
38. Menahan tangan dari harta (yang bukan haknya).
39. Wajib bersikap wara' dalam hal makanan, minuman, dan menjauhi hal-hal yang tidak dihalalkan.
40. Tidak mengenakan pakaian atau menggunakan wadah-wadah yang haram atau makruh.
41. Mengharamkan permainan dan kegiatan selingan yang bertentangan dengan syari'at.
42. Berhemat dalam membelanjakan harta dan mengharamkan makan harta secara batil.
43. Meninggalkan dendam dan iri dengki.
44. Mengharamkan merusak kehormatan orang lain dan tidak menodainya dengan cara apapun.
45. Mengikhlaskan amal semata-mata untuk Allah dan tidak riya'.
46. Merasa gembira terhadap kebaikan dan sedih terhadap keburukan.
47. Mengobati setiap dosa dengan bertaubat.
48. Berkurban, termasuh kurban dalam rangkaian ibadah haji, sembelihan kurban di luar ibadah haji, dan akikah.
49. Menaati perintah.
50. Berpegang teguh terhadap apa yang dipegangi oleh jamaah kaum muslimin.
51. Menetapkan hukum diantara manusia secara adil.
52. Amar ma'ruf nahi munkar.
53. Saling menolong dalam kebajikan dan taqwa.
54. Malu.
55. Berbakti kepada kedua orang tua.
56. Menyambung tali persaudaraan (silaturrahim).
57. Berakhlaq yang baik.
58. Berbuat ihsan kepada budak, termasuk pembantu.
59. Hak seorang majikan atas budaknya.
60. Hak anak dan keluarga.
61. Bergaul akrab dengan orang yang taat beragama, mencintai mereka, menebarkan salam kepada mereka, berjabat tangan dengan mereka, dan beragam tindakan lain yang dapat mempererat jalinan cinta kasih dengan mereka.
62. Menjawab salam.
63. Menjenguk orang sakit.
64. Menyalati jenazah sesama muslim.
65. Mendoakan orang yang bersin.
66. Menjauhi orang-orang kafir dan orang-orang yang suka menebar kerusakan, serta bersikap keras kepada mereka.
67. Memuliakan tetangga.
68. Memuliakan tamu.
69. Menutupi kesalahan orang-orang yang berdosa.
70. Bersabar menghadapi musibah dan segala yang menarik bagi jiwa, yakni kelezatan dan syahwat.
71. Zuhud dan pendek angan-angan.
72. Cemburu dan tidak mengizikan pergaulan bebas.
73. Berpaling dari hal yang main-main.
74. Murah hati dan dermawan.
75. Menyayangi yang lebih kecil dan menghormati yang lebih tua.
76. Mendamaikan dua orang yang bersengketa.
77. Mengharap agar saudaranya sesama muslim memperoleh sesuatu yang dia pun sangat mengharapkannya untuk dirinya sendiri, juga membenci jika saudaranya mendapat sesuatu yang ia sangat membencinya jika menimpa dirinya sendiri.

Inilah 77 cabang iman yang dipaparkan dalam kitab Mukhtashar Syu’abul Iman. Semoga Allah membimbing kita untuk mengamalkannya. Amin. Wallahu a’lam.

Catatan: Bagi Anda yang berminat untuk mendapatkan edisi digital dari dua kitab tersebut, juga satu kitab lain yang sejenis, silakan kunjungi tautan berikut ini: 

Al-Jami’Li Syu’abil Iman, link: http://waqfeya.com/book.php?bid=565 
Mukhtashar Syu’abil Iman, link: http://archive.org/details/books-5_ahlalhdeeth 
Al-Minhaj Fi Syu’abil Iman, link: http://waqfeya.com/book.php?bid=4851

6 comments: