Monday, May 5, 2014

Siraj al-Thalibin Syarh ‘ala Minhaj al-‘Abidin


Kitab Siraj al-Thalibin Syarh ‘ala Minhaj al-‘Abidin Ila Jannat Rabb al-‘Alamin (سراج الطالبين شرح على منهاج العابدين إلى جنة رب العالمين) merupakan sebuah karya tasawuf yang terkenal di kalangan penuntut ilmu agama di pondok-pondok  pesantren di Nusantara. Kitab yang disusun dan diolah dengan baik dalam bahasa Arab ini adalah sebuah karya bermutu seorang ulama dari Indonesia, iaitu al-‘Alim al-‘Allamah Syaikh Ihsan Dahlan bin al-Marhum Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kadiri (1901-1952M). Kitab ini merupakan syarah kepda kitab “ Minhaj al-Abidin ” karya Hujjatul Islam al-Imam Abu Hamid al-Ghazali (505H), seorang ulama dan filasuf besar pada abad pertengahan.

Kitab Siraj al-Thalibin disusun pada tahun 1933 dan diterbitkan pertama kali pada 1936 oleh penerbitan dan percetakan al-Banhaniyah milik Salim bersaudara (Syeikh Salim bin Sa’ad dan saudaranya Achmad) di Surabaya yang bekerja sama dengan sebuah syarikat percetakan besar yang terkenal banyak menerbitkan buku-buku ilmu agama Islam karya ulama besar abad pertengahan di Kaherah, Mesir, iaitu Mathba’ah Mustafa al-Baby Halabi.

Kitab Siraj al-Thalibin terdiri daripada dua juz (jilid). Juz pertama berisi 419 halaman dan juz kedua 400 halaman. Dalam periode berikutnya, kitab tersebut dicetak pula oleh Darul Fikr–sebuah percetakan dan penerbit di Beirut, Lebanon. Dalam cetakan Lebanon, setiap juz dibuat satu jilid. Jilid pertama berisi 544 halaman dan jilid kedua 554 halaman.

Kitab ini mendapatkan pujian luas dari kalangan ulama di Timur Tengah. Oleh itu, tidak menghairankan jika kitab ini dijadikan buku wajib untuk kajian pasca sarjana Universiti al-Azhar, Mesir.

Kitab Siraj al-Thalibin bukan sahaja beredar di Indonesia dan negara-negara yang penduduknya majoriti beragama Islam, tetapi juga di negara-negara bukan Islam, seperti Amerika Syarikat, Kanada dan Australia. Di mana terdapat jurusan filsafat, teosofi, dan Islamologi di pusat pengajian tinggi di negara tersebut yang menjadikan kitab Siraj al-Thalibin ini sebagai rujukan dalam kajian mereka.

Gambaran Umum kandungan Kitab Sirâj al-Thâlibîn

Sebagaimana sudah diketahui oleh masyarakat umum bahwa kitab ini merupakan sebuah kitab yang bergenre tasawwuf. Sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang etika zahir dan batin diri manusia. Sebagai karya yang merupakan huraian dari kitab Minhaj al-‘Abidin, karya al-Ghazali, tentunya penulisannya mengikuti dan menyesuaikan dengan gaya dan sistematik dari kitab asalnya.

Dalam mukaddimahnya, Syeikh Ihsan Dahlan mengatakan bahawa apa yang beliau tulis dalam kitab Sirâj al-Thâlibin adalah hanya kumpulan pendapat-pendapat ulama, beliau tidak melakukan apapun kecuali hanya sekadar menukil kembali apa yang ditulis oleh para ulama terdahulu dalam kitab-kitab mereka. Hemat penulis, hal itu tidak lain merupakan bentuk ‘andap-asor’ (tawadhu’) dari Syeikh Ihsan Dahlan sendiri, kerana di dalam kitab tersebut Syeikh Ihsan Dahlan tidak hanya menukil pendapat-pendapat orang lain, bahkan juga mengelaborasi dan mengkontekstualisasikan terma-terma tasawuf ke dalam eranya.

Sebagai contohnya, Syeikh Ihsan Dahlan sampai menyimpulkan bahawa zuhud pada zaman ini tidak hanya dilakukan dengan meninggalkan dunia secara total. Biasanya zuhud diartikan sebagai meninggalkan urusan duniawi atau menghindari harta benda. Syeikh Ihsan Dahlan mengajarkan bahawa orang yang zuhud sebenarnya adalah mereka yang dikejar harta, namun tak merasa memiliki harta itu sama sekali.  Jadi zuhud adalah meninggalkan urusan  duniawi, tapi tidak menolak kekayaan yang dikurniakan oleh Allah SWT. Dengan kekayaan yang ada, digunakannya di jalan yang terbaik dalam menafkahkan hartanya itu. Inilah ajaran kitab Siraj al-Thalibin. Bahkan Kiai Ihsan Dahlan sendiri adalah orang yang kaya raya. Satu lagi pelajaran dari kitab Siraj al-Thalibin adalah soal syukur, atau berterimakasih atas semua kurniaan  dari Allah SWT. Kata Syeikh Ihsan Dahlab dalam juz dua kitab Siraj al-Thalibin, doa yang paling tinggi adalah kalimat al-Hamdulillah (segala puji bagi Allah).

Polemik Mengenai Keabsahan kitab Siraj al-Thalibin sebagai karya Syaikh Ihsan Dahlan;

Pada dasarnya tidaklah tepat untuk mengatakan bahawa kitab Sirâj al-Thâlibîn mengalami kekeliruan identiti sebenar pengarangnya, kerana pada mulanya kitab ini sudah disepakati  bahawa kitab ini adalah karya dari Syeikh Ihsân Dahlân. Hanya saja pada awal tahun 2009 sebuah penerbit terkemuka di Beirut Libanon, iaitu Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, menerbitkan kitab ini dengan nama penulis lain, yakni Syeikh Zainî Dahlân. Hal ini diperparah dengan dibuangnya Taqârîdz (semacam kata pengantar) yang ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy’arî. 

Beberapa pihak menduga bahwa kekeliruan ini sengaja dilakukan oleh penerbit tersebut demi merais sambutan pembaca di pasaran. Karena di Timur Tengah nama Syeikh Ihsan Dahlan kurang popular dibangdingkan dengan Syeikh Zaini Dahlan. Kemudian masalah ini ditindak lanjuti oleh PBNU dengan meminta klarifikasi kepada penerbit tersebut serta memintanya untuk mengganti nama penulisnya dengan nama Syeikh Ihsân Dahlân kembali.

Di samping itu, ada beberapa data yang mengokohkan dan mengukuhkan bahwa Sirâj al-Thâlibin adalah benar-benar karya Syeikh Ihsân Dahlân.  Pertama, dalam muqaddimah kitab tersebut ditulis ungkapan:

Seorang hamba yang mengharap ampunan Tuhannya, yang membutuhkan rahmat-Nya; Ihsân bin al-Marhûm Muhammad Dahlân al-Jampesi al-Kadiri –semoga Allah memperbaiki keadaan dan tingkah lakunya dan menutupi aibnya di dunia dan akhirat- berkata; kitab ini (sirâj al-Thâlibîn) adalah penjabaran yang singkat nan agung atas sebuah kitab yang berjudulMinhâj al-‘Âbidîn karya Seorang imam yang enerjik dan menjadi panutan semua golongan baik orang khâs maupun orang awam. Seseorang yang digelari Hujjat al-Islâm dan memberkahi umat manusia. Ulama yang kesempurnaannya terdengar di telinga semua orang. Reputasi karyanya berada di posisi yang sangat tinggi serta membuat para ulama-ulama lainnya menundukkan wajahnya karena kekaguman mereka atas karyanya. Ulama itu bernama Syeikh Abû Hâmid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazâlî –semoga Allah menyirami kuburannya dengan ampunan yang selalu mengalir-. Aku –Syeikh Ihsan- menulis kitab ini dengan tujuan untuk mengingatkan diriku sendiri juga untuk mengingatkan orang-orang yang lemah sepertiku. Aku namakan kitab ini dengan judul, “Sirâj al-Thâlibîn ‘Alâ Minhâj al-‘Âbidîn Ilâ Jannat Rabb al-Âlamîn.”

Data tersebut dipertegas dalam penutupan kitabnya dengan mengungkapkan;

Akhirnya penulisan ini -dengan segala kesibukan penulis- telah selesai dalam jangka waktu sekitar delapan bulan. Pada waktu siang hari selasa dan bertepatan dengan tanggal 27 Sya’ban 1351 Hijriah. Penulisan ini dirampungkan di rumahku, daerah Jampes Kediri, salah satu kota di pulau Jawa.”

Sebagaimana penulis sebutkan di atas, pada cetakan-cetakan selain yang diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Kitab ini diberikan Taqâridz (kata pengantar) oleh sejumlah ulama Indonesia. Hal ini bisa dilihat pada akhir jilid kedua dari kitab Sirâj al-Thâlibîn. Taqâridz ini juga mengukuhkan penisbatan kitab ini kepada Syeikh Ihsan, sebagaimana yang disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari;

Lembah ilmu-ilmu di sepanjang masa selalu mengalir deras. Taman-taman disiplin ilmu akan selalu berbuah dan daunnya akan selalu hijau. Duhai Allah, ilmu-ilmu itu adalah perhiasan yang amat mulia dan amat  menguntungkan. Mengangkat derajat pemiliknya kepada derajat yang tinggi. Pengkaji yang menyibukkan dengan ilmu akan memperoleh manfaat. Sementara ilmu yang paling tinggi nilainya dan paling baik penyebutannya adalah ilmu tasawuf, ilmu yang dapat menjernihkan hati dan watak. Ilmu yang merupakan pokok atau dasarnya ilmu, sementara ilmu lainnya adalah cabang. Karena ilmu ini berkaitan dengan keberadaan Tuhan, jalan menempuh kebahagiaan, dan kebagaiaan yang kekal. Dan salah satu kitab terbaik dalam bidang ini (tasawuf) dan yang dapat memberikan “pemahaman” kepada orang-orang yang berakal. Sebuah kitab yang dinamakan dengan “Sirâj al-Thâlibîn ‘Alâ Minhâj al-Âbidîn Ilâ Jannat Rabb al-‘Âlamîn” karya seorang Âlim dan Allâmat, seorang yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas, yakni Syeikh Ihsan bin al-Marhum Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kadiri.”

Di samping kata pengantar yang diberikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, ada komentar sekaligus pujian lain yang diberikan kepada Syeikh Ihsan dengan karyanya ini. Pujian tersebut datang dari seorang ulama asal Nganjuk Jawa Timur, KH. Abdurrahman bin Abdul Karim al-Sukri. Pujian lainnya juga datang dari ulama Kediri yang bernama Muhammad Yunus bin Abdullah. Ulama yang disebut terakhir ini berkata dalam kata pengantarnya:

Aku telah membaca sebagian isi dari naskah kitab ini, sebuah naskah yang merupakan penjabaran (atas karya al-Ghazali) yang sangat menawan. Aku menyambut gembira (atas naskah ini), kegembiraan yang dapat memberikan petunjuk atas kajian ini (tasawuf). Semoga Allah membalas kebaikan penulis kitab ini dan ulama-ulama semisalnya dengan sebaik-baiknya balasan.”

Kitab ini juga telah mendapat sanjungan dari beberapa ulama Jawa terkemuka lainnya, sebut saja Syeikh Khazin Bendo Pare (Paman sekaligus gurunya saat beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Bendo). Syeikh Muhammad Ma’ruf Kedunglo, Kediri, dan KH. Abdul Karim, Lirboyo Kediri.

Dari paparan dan data-data yang penulis peroleh, bisa penulis simpulkan bahwa karya ini (Sirâj al-Thâlibîn) adalah karya Syeikh Ihsan Dahlan bukan karya dari Syeikh Zaini Dahlan sebagaimana cetakan yang diterbitkan oleh Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah.

Artikel di atas merupakan petikan dengan beberapa suntingan dari pautan berikut; http://idrismuhammad.blogspot.com/2011/04/membedah-siraj-al-thalibin-karya-syeikh.html . Bagi membaca artikel asal yang berserta dengan nota rujukannya, sila layari pautan di atas. Semoga bermanfaat.

5 comments:

  1. Assalamulaikum wr wb
    Dimana saya bisa beli buku terjemah kitab Sirojat Tholibin karangan Syech Ihsan Muhamad Dahlan Jampes Kediri
    mohon bantuan infonya..trims

    ReplyDelete
  2. blog ini sangat bagos menerangkan ulama yg muktabar dan kitab2 mereka yg membimbing kaum muslimin ke jalan yg benar, tapi keadaan sekarang sangat prihatin kerana kitab2 ulama yg muktabar tidak lagi di ajar, kalau ada pun sangat sedikit sekali, malah kitab2 wahabi/salafi yg sesat, di propaganda dengan menarik, di jual dengan mudah dan murah, di ajari di media sosial dan banyak awam muslimin yg terpengaroh dan terpedaya dengan ajaran sesat mereka. ulama2 yg muktabar hanya tinggal kenangan dan kitab2 mereka hanya jadi bahan museum dan tidak di pelajari dan tidak di dedahkan, oleh itu mana mungkin keadaan orang islam akan bertambah ilmu dan amal yg bermanfaat, padahal keadaan sekeliling di racun dengan ajaran yg sesat dan membahayakan dunia dan akhirat

    ReplyDelete
  3. blog ini sangat bagos menerangkan ulama yg muktabar dan kitab2 mereka yg membimbing kaum muslimin ke jalan yg benar, tapi keadaan sekarang sangat prihatin kerana kitab2 ulama yg muktabar tidak lagi di ajar, kalau ada pun sangat sedikit sekali, malah kitab2 wahabi/salafi yg sesat, di propaganda dengan menarik, di jual dengan mudah dan murah, di ajari di media sosial dan banyak awam muslimin yg terpengaroh dan terpedaya dengan ajaran sesat mereka. ulama2 yg muktabar hanya tinggal kenangan dan kitab2 mereka hanya jadi bahan museum dan tidak di pelajari dan tidak di dedahkan, oleh itu mana mungkin keadaan orang islam akan bertambah ilmu dan amal yg bermanfaat, padahal keadaan sekeliling di racun dengan ajaran yg sesat dan membahayakan dunia dan akhirat

    ReplyDelete
  4. blog ini sangat bagos menerangkan ulama yg muktabar dan kitab2 mereka yg membimbing kaum muslimin ke jalan yg benar, tapi keadaan sekarang sangat prihatin kerana kitab2 ulama yg muktabar tidak lagi di ajar, kalau ada pun sangat sedikit sekali, malah kitab2 wahabi/salafi yg sesat, di propaganda dengan menarik, di jual dengan mudah dan murah, di ajari di media sosial dan banyak awam muslimin yg terpengaroh dan terpedaya dengan ajaran sesat mereka. ulama2 yg muktabar hanya tinggal kenangan dan kitab2 mereka hanya jadi bahan museum dan tidak di pelajari dan tidak di dedahkan, oleh itu mana mungkin keadaan orang islam akan bertambah ilmu dan amal yg bermanfaat, padahal keadaan sekeliling di racun dengan ajaran yg sesat dan membahayakan dunia dan akhirat

    ReplyDelete
  5. blog ini sangat bagos menerangkan ulama yg muktabar dan kitab2 mereka yg membimbing kaum muslimin ke jalan yg benar, tapi keadaan sekarang sangat prihatin kerana kitab2 ulama yg muktabar tidak lagi di ajar, kalau ada pun sangat sedikit sekali, malah kitab2 wahabi/salafi yg sesat, di propaganda dengan menarik, di jual dengan mudah dan murah, di ajari di media sosial dan banyak awam muslimin yg terpengaroh dan terpedaya dengan ajaran sesat mereka. ulama2 yg muktabar hanya tinggal kenangan dan kitab2 mereka hanya jadi bahan museum dan tidak di pelajari dan tidak di dedahkan, oleh itu mana mungkin keadaan orang islam akan bertambah ilmu dan amal yg bermanfaat, padahal keadaan sekeliling di racun dengan ajaran yg sesat dan membahayakan dunia dan akhirat

    ReplyDelete