Saturday, April 13, 2013

al-Jami' Li Syu'ab al-Iman dan Mukhtasharnya


Ketika saya mula membaca buku terjemahan kitab Mukhtashar Syu’ab al-Iman (مختصر شعب الإيمان ) iaitu terjemahan karya Imam al-Qazwaini al-Syafi’i yang diterbitkan oleh Pustaka Azzam dari Indonesia dengan judul Ringkasan Syu’abul Iman, saya berazam untuk memaparkan pengenalan ringkas kitab ini dalam blog karya ulama ini. Ketika saya mencari maklumat kitab ini di alam cyber, saya dapati ada satu artikel yang membicarakan mengenai kitab Mukhtashar Syu’ab al-Iman dan kitab induknya iaitu Kitab al-Jami’ Li Syu’ab al-Iman karya al-Imam al-Bayhaqi. Kita ikuti artikel tersebut yang saya ambil dari pautan di bawah tanpa sebarang perubahan teksnya. http://adabuna.blogspot.com/2012/05/77-karakter-manusia-unggul-dalam-kitab.html 

Bismillahirrahmanirrahim.

Diantara khazanah klasik yang sangat menarik adalah karya-karya yang memaparkan karakter manusia-manusia unggul. Tentu saja, yang dimaksud disini adalah unggul menurut ukuran dan kriteria Islam, bukan peradaban industri yang berpijak pada materialisme semata. Salah satu karya paling komprehensif di bidang ini adalah al-Jami’ li Syu’abi al-Iman, karya al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa al-Khasrujardi al-Baihaqi (lh. 384 H, w. 458 H), atau kita biasa menyebutnya Imam al-Baihaqi saja. Karya ini merupakan salah satu kutub al-mutun atau literatur induk di bidang hadits, karena isi kandungannya yang sangat luar biasa dan seringkali memiliki jalur-jalur periwayatan tersendiri yang berbeda dengan karya lain. Dalam Ilmu Hadits, perbedaan jalur ini sangat penting, karena bisa dipergunakan untuk memeriksa otentisitas riwayat melalui metode perbandingan.

Judul kitab ini berarti “Kumpulan Cabang-cabang Iman”,yang didasarkan pada hadits riwayat Bukhari-Muslim yang menyatakan bahwa iman memiliki cabang lebih dari 60, atau lebih dari 70. Imam al-Baihaqi, berbekal penguasaan beliau terhadap tafsir, hadits, atsar, dan ilmu-ilmu lainnya, kemudian menelusuri cabang-cabang-cabang tersebut dan mengumpulkannya dalam sebuah karya besar. Dari penelusuran tersebut, beliau menemukan 77 cabang, yang seluruhnya didukung oleh ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, dan atsar. Ketika menyadari kehebatan karya ini, Ustadz Muhaimin Iqbal, pemimpin Gerai Dinar, pernah menyebutnnya sebagai “77 Habits : More Then Just Highly Effective People…” (77 Kebiasaan: Lebih dari Sekedar Orang-orang yang Sangat Efektif). Beliau merujuk pada buku-buku Steven R. Covey yang berjudul The Seven Habits of Highly Effective People, dan kemudian dilengkapi oleh The 8th Habits. Hanya saja, bagi pembaca modern – apalagi kaum awam – karya Imam al-Baihaqi ini memiliki “kekurangan”, yakni ukurannya yang sangat tebal dan metode penyitiran sanad-nya yang sangat detil. Sebagai gambaran, salah satu edisi modern kitab ini diterbitkan pada tahun 2003 oleh Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, dalam 14 juz (termasuk indeks), dengan ketebalan total diatas 7.820 halaman. Menurut penghitungan para editornya, kitab ini memuat tidak kurang dari 10.752 riwayat, dari berbagai jenis dan tingkatan. Selain itu, betapa sering beliau menyitir tiga atau empat baris rangkaian isnad, padahal riwayat yang dinukil hanya beberapa kata saja, atau sama dengan riwayat sebelumnya. Tentu saja, nilai-nilai agung dalam karya ini seperti berada diatas menara gading, indah namun tidak membumi. Bahkan, hampir bisa dipastikan, sangat sedikit diantara kita yang memiliki copy naskahnya, apalagi yang telah tuntas menelaahnya. 

Kenyataan ini disadari sepenuhnya oleh al-Qadhi Abul Ma’ali‘Umar bin Sa’duddin Abul Qasim ‘Abdurrahman bin Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad bin Muhammad al-Qazwini asy-Syafi’i (lh. 653 H, w. 699 H). Maka, beliau pun memburu keberadaan naskah asli kitab tersebut, mengambil bacaannya dari dua jalur, lalu membawanya ke Damaskus. Setelah tuntas mengkaji kitab yang – pada masa itu – dicatat dalam 6 jilid besar, beliau bertekad meringkasnya, sebab: “…saya mendapati (cabang-cang iman) itu terpencar-pencar pada seluruh kitab. Beliau tidak mengumpulkannya terlebih dahulu pada kata pengantar dan tidak pula pada jilid pertama. Beliau langsung berfokus untuk merinci penjelasan cabang-cabang iman itu, namun beliau memencarnya di seluruh kitab. Maka, didorong oleh kebutuhan, saya pun mengumpulkannya dan meringkasnya sebagai pokok-pokok persoalan. Saya mencukupkan diri dengan menyitir satu ayat dari Kitabullah, atau satu hadits yang paling shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam beberapa cabang iman, terkadang saya menambahkan satu atau beberapa ayat; atau satu hadits; atau beberapa kalimat; satu atau beberapa kisah; satu atau beberapa bait syair; yang tidak disebutkan oleh Imam al-Baihaqi. Saya telah membaginya menjadi 77 bab.” 

Kitab terakhir ini diberi judul Mukhtashar Syu’abul Iman, dan menjadi intisari luar biasa dari karya lain yang juga luar biasa. Bayangkan, kitab setebal lebih dari 7.820 halaman berhasil diringkas menjadi 176 halaman saja (sudah termasuk pengantar, indeks, apendiks, dan daftar isi). Menurut hemat kami, peringkasan ini samasekali tidak menghilangkan tujuan utama penyusunannya! Salah satu edisi modern dari karya ini diterbitkan oleh Dar Ibnu Katsir, Damaskus-Beirut, tahun 1985, yang diedit dan di-takhrij oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Arna’uth. Tentu saja, kitab Mukhtashar ini tidak lagi memuat deretan-deretan sanad yang panjang, namun cukup disitir nama Sahabat dan sumber aslinya dari kitab induk hadits tertentu. Syaikh al-Arna’uth kemudian merujukkan lokasi dari sumber-sumber asli tersebut, dan menyebutkan status sanad-nya, sehingga nilai ilmiahnya semakin tinggi tanpa harus bertele-tele mengikuti analisis para Ahli Hadits. Tentu saja, kitab ini sangat cocok bagi kita kaum awam yang terkadang “merasa tidak punya cukup waktu” untuk meng-upgrade keimanan kita dengan menambah ilmu dari sumber-sumber terpercaya. Menurut hemat kami, daripada membaca ulasan karakter manusia unggul yang bersumber dari penulis-penulis Barat, seribu kali jauh lebih baik kita menelaah karya ini. Ada banyak faidah sekaligus, seperti mendekatkan dengan Kitabullah, karena di dalamnya banyak disitir ayat-ayat Al-Qur’an; kemudian mendengarkan wejangan Rasulullah melalui hadits-hadits beliau. Membaca ayat dan menelaah hadits jelas bernilai ibadah dan mengandung dzikir, sesuatu yang tidak akan kita dapatkan dari karya-karya berbasis psikologi materialis-sekuler yang seringkali anti-tuhan, menolak metafisika, dan tidak sedikit pun berbicara tentang akhirat. Karya ini juga disertai syair, kisah dan kalimat hikmah dari para ulama’ yang mengabdikan hidupnya untuk Allah, bukan manusia-manusia yang menyembah dunia dan menjadi budak materi. 

Mengapa kami menilai karya ini sangat bagus untuk ditelaah? Sebab, selain ukurannya yang ringkas, maka seperti dinyatakan al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuiddin, bahwa diantara metode terbaik untuk menguatkan iman adalah membaca Al-Qur’an dan tafsirnya, mendengar hadits dan maknanya, menunaikan tugas-tugas ibadah, dan bergaul atau mengenal kisah orang-orang shalih. Kisah dan kata-kata orang yang tidak beriman kepada Allah, apalagi yang memusuhi-Nya, tentu tidak akan steril dari keyakinan mereka. Bukankah keyakinan yang melatari setiap hati pasti terefleksikan melalui kata-kata dan tindakan pemiliknya? Nah, kitab ini telah memuat tiga diantaranya: ayat, hadits, dan kisah. Sebelum menutup ulasan ringkas ini, kami pikir ada baiknya jika 77 cabang iman tersebut disitir sekarang, sebagai gambaran ringkas. Siapa tahu, sebagian besar sudah kita laksanakan, sehingga kita semakin termotivasi untuk menggenapkan cabang-cabang lainnya, dan kemudian diberkahi menjadi manusia yang berkarakter unggul, dengan izin Allah.

1. Beriman kepada Allah ta'ala.
2. Beriman kepada para Rasul Allah 'alaihim as-salaam.
3. Beriman kepada para malaikat Allah.
4. Beriman kepada Al-Qur'an dan semua kitab yang terdahulu.
5. Beriman kepada qadar (ketentuan) dari Allah, yang baik maupun yang buruk.
6. Beriman kepada hari akhir.
7. Beriman kepada kebangkitan setelah kematian.
8. Beriman bahwa manusia akan dikumpulkan (di mahsyar) setelah mereka dibangkitkan, sampai mereka dipanggil satu per satu menghadap Allah.
9. Beriman bahwa tempat tinggal kaum beriman di akhirat adalah surga, sementara tempat tinggal kaum kafir adalah neraka.
10. Beriman kepada wajibnya mahabbah (mencintai) Allah ta'ala.
11. Beriman kepada wajibnya khauf (merasa takut) kepada Allah ta'ala.
12. Beriman kepada wajibnya raja' (berharap) kepada Allah ta'ala.
13. Beriman kepada wajibnya tawakkal (bersandar) kepada Allah ta'ala.
14. Beriman kepada wajibnya mencintai Nabi shalla-llahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
15. Beriman kepada wajibnya mengagungkan, menghormati dan memuliakan Nabi shalla-llahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
16. Tidak rela melepas agamanya, sampai tingkatan lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada menjadi kafir.
17. Mencari ilmu.
18. Menyebarkan ilmu.
19. Mengagungkan Al-Qur'an, yakni dengan mempelajari, mengajarkan, memelihara batas-batas serta hukum yang ditetapkannya, memahami halal-haramnya, menghormati ahli Al-Qur'an dan para hafizh-nya, menangis tatkala mendengar janji dan ancaman Allah di dalamnya.
20. Bersuci.
21. Shalat lima waktu.
22. Zakat.
23. Puasa.
24. I'tikaf.
25. Hajji.
26. Jihad.
27. Berjaga di medan perang (ribath) di jalan Allah ta'ala.
28. Teguh menghadapi musuh dan tidak melarikan diri (desersi) dari medan perang.
29. Bagi yang mendapat ghanimah, menyerahkan seperlima darinya untuk imam dan para pejabat yang ditunjuk untuk mengumpulkannya.
30. Memerdekakan budak semata-mata mengharap wajah Allah ta'ala.
31. Menunaikan kaffarat yang wajib bagi yang melanggar hukum jinayat.
32. Memenuhi janji.
33. Menghitung-hitung nikmat Allah dan mensyukurinya.
34. Menjaga lisan dari hal-hal yang tidak ada perlunya.
35. Menjaga amanat dan menunaikannya kepada yang berhak.
36. Mengharamkan pembunuhan dan tindakan jinayat kepada siapapun.
37. Mengharamkan kemaluan dari hal terlarang dan berusaha mejaga kehormatan diri.
38. Menahan tangan dari harta (yang bukan haknya).
39. Wajib bersikap wara' dalam hal makanan, minuman, dan menjauhi hal-hal yang tidak dihalalkan.
40. Tidak mengenakan pakaian atau menggunakan wadah-wadah yang haram atau makruh.
41. Mengharamkan permainan dan kegiatan selingan yang bertentangan dengan syari'at.
42. Berhemat dalam membelanjakan harta dan mengharamkan makan harta secara batil.
43. Meninggalkan dendam dan iri dengki.
44. Mengharamkan merusak kehormatan orang lain dan tidak menodainya dengan cara apapun.
45. Mengikhlaskan amal semata-mata untuk Allah dan tidak riya'.
46. Merasa gembira terhadap kebaikan dan sedih terhadap keburukan.
47. Mengobati setiap dosa dengan bertaubat.
48. Berkurban, termasuh kurban dalam rangkaian ibadah haji, sembelihan kurban di luar ibadah haji, dan akikah.
49. Menaati perintah.
50. Berpegang teguh terhadap apa yang dipegangi oleh jamaah kaum muslimin.
51. Menetapkan hukum diantara manusia secara adil.
52. Amar ma'ruf nahi munkar.
53. Saling menolong dalam kebajikan dan taqwa.
54. Malu.
55. Berbakti kepada kedua orang tua.
56. Menyambung tali persaudaraan (silaturrahim).
57. Berakhlaq yang baik.
58. Berbuat ihsan kepada budak, termasuk pembantu.
59. Hak seorang majikan atas budaknya.
60. Hak anak dan keluarga.
61. Bergaul akrab dengan orang yang taat beragama, mencintai mereka, menebarkan salam kepada mereka, berjabat tangan dengan mereka, dan beragam tindakan lain yang dapat mempererat jalinan cinta kasih dengan mereka.
62. Menjawab salam.
63. Menjenguk orang sakit.
64. Menyalati jenazah sesama muslim.
65. Mendoakan orang yang bersin.
66. Menjauhi orang-orang kafir dan orang-orang yang suka menebar kerusakan, serta bersikap keras kepada mereka.
67. Memuliakan tetangga.
68. Memuliakan tamu.
69. Menutupi kesalahan orang-orang yang berdosa.
70. Bersabar menghadapi musibah dan segala yang menarik bagi jiwa, yakni kelezatan dan syahwat.
71. Zuhud dan pendek angan-angan.
72. Cemburu dan tidak mengizikan pergaulan bebas.
73. Berpaling dari hal yang main-main.
74. Murah hati dan dermawan.
75. Menyayangi yang lebih kecil dan menghormati yang lebih tua.
76. Mendamaikan dua orang yang bersengketa.
77. Mengharap agar saudaranya sesama muslim memperoleh sesuatu yang dia pun sangat mengharapkannya untuk dirinya sendiri, juga membenci jika saudaranya mendapat sesuatu yang ia sangat membencinya jika menimpa dirinya sendiri.

Inilah 77 cabang iman yang dipaparkan dalam kitab Mukhtashar Syu’abul Iman. Semoga Allah membimbing kita untuk mengamalkannya. Amin. Wallahu a’lam.

Catatan: Bagi Anda yang berminat untuk mendapatkan edisi digital dari dua kitab tersebut, juga satu kitab lain yang sejenis, silakan kunjungi tautan berikut ini: 

Al-Jami’Li Syu’abil Iman, link: http://waqfeya.com/book.php?bid=565 
Mukhtashar Syu’abil Iman, link: http://archive.org/details/books-5_ahlalhdeeth 
Al-Minhaj Fi Syu’abil Iman, link: http://waqfeya.com/book.php?bid=4851

Friday, April 12, 2013

al-Adab al-Mufrad


Kitab al-Adab al-Mufrad (الأدب المفرد) merupakan karya Imam al-Muhaddisin Muhammad bin Ismail al-Bukhari, seorang tokoh hadis agung yang tidak asing lagi. Beliau terkenal dengan karya agungnya Kitab al-Jami’ al-Shahih atau yang lebih dikenali dengan Shahih al-Bukhari, yang dianggap sebagai kitab yang paling shahih selepas al-Quran.


Kandungan kitab al-Adab al-Mufrad ini berisikan himpunan hadis-hadis Rasulullah saw dalam tema adab (etika seorang muslim). Kitab ini merupakan kitab yang sangat bermanfaat untuk panduan seorang muslim dalam beretika. Ia disusun berpandukan tema dan latar belakang hadis yang dibawa.
 
Kitab al-Adab al-Mufrad dan terjemahan dalam Bahasa Inggeris boleh dibaca secara online di pautan http://sunnah.com/adab  atau http://www.sunnipath.com/library/Hadith/H0003P0000.aspx 
atau  boleh didownload di pautan
http://www.downloadislamicbooks.net/wp-content/uploads/2012/03/Adab-Al-Mufrad-Imam-Bukhari.pdf

Thursday, April 11, 2013

Mabahith fi 'Ulum al-Quran


Kitab Mabahith fi ‘Ulum al-Quran (مباحث في علوم القرآن) karya Syaikh Manna’ Khalil al-Qaththan merupakan sebuah buku yang terkenal pada zaman mutakhir yang membincangkan ilmu-ilmu al-Quran. buku ini membentangkan perbahasan ringkas, padat, bermaklumat, dan mencakupi aspek-aspek utama secara umum yang menyeluruh berkaitan ilmu-ilmu al-Quran. Ia membahaskan tentang peri-pentingnya mempelajari dan memahami ilmu-ilmu al-Qur'an, sekaligus mengajak para pembaca mengenali al-Qur'an dan selok-beloknya dengan lebih dekat dan jelas. Buku ini membimbing para pembaca terutamanya dari kalangan penuntut ilmu dan pemula yang memiliki semangat yang kuat untuk memahami selok-belok al-Qur'an, asas-asas penting kefahaman tentang sejarah, pembukuan, dan metod penafsiran al-Qur'an. Buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk dalam bahasa Melayu / Indonesia.

Berikut merupakan ringkasan kandungan (tajuk-tajuk utama), kitab Mabahith fi ‘Ulum al-Quran;
1 - Ulumul Quran dan Sejarah Perkembangannya
2 - Al Qur-an: Definisi, sifat-sifatnya, dan perbezaannya dengan hadis.
3- Wahyu: Pengertian, cara diturunkan.
4- Ayat Makki dan Madani
5- Pengetahuan tentang ayat yang pertama dan terakhir turun
6- Asbab al-Nuzul
7- Bagaimana Turunya al-Quran
8- Pengumpulan Penerbitan al-Quran
9- Turunnya al-Quran dengan tujuh huruf
10- Qira'at dan Qurra'
11- Kaedah-kaedah Penting untuk para Mufassir
12 - Perbezaan Muhkam dengan Mutasaybihat
13 - Lafaz Yang Umum dan Khusus
14 - Nasikh dan Mansukh
15- Muthlaq da Muqayyad
16 - Manthuq dan Mafhum
17 - Kemukjizatan al-Qur'an
18 - Amtsal (perumpamaan) al-Qur'an
19 - Qasam (sumpah) dalam al-Qur'an
20- Jadal (debat) dalam al-Qur'an
21 - Kisah-Kisah al-Qur'an
22 - Menterjemah al-Qur'an
23 - Tafsir dan Ta'wil
24 - Syarat-syarat dan Adab Mufassir
25 - Perkembangan Tafsir dari masa ke masa 2'
26 - Riwayat hidup beberapa mufassir (ulama tafsir). 
 
Semoga bermanfaat.

Sunday, April 7, 2013

al-Mu'jam al-Mufahras Li Alfaz al-Quran


Kitab al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfaz al-Quran  (الـمـعـجـم الـمـفـهـرس لألـفـاظ الـقـرآن الـكـريـم ) merupakan sebuah kitab rujukan yang lengkap dalam mencari ayat-ayat al-Quran mengikut huruf abjad (alif – ya).

Kitab yang sangat penting ini disusun oleh al-‘Allamah al-Muhaqqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, seorang ulama terkenal dari Mesir yang telah memberi sumbangan yang besar dalam bidang pentahqikkan (pengeditan) dan semakan terhadap kitab-kitab karya ulama terdahulu, khusus mengenai hadis-hadis Rasulullah saw. Beliau dilahirkan pada tahun 1299H / 1882M dan wafat pada 23 Zul Qa’dah tahun 1388H / 2 Februari  1968.

Kitab ini memudahkan kita mencari ayat al-Quran kita inginkan Contohnya jika kita ingin mencari ayat yang mempunyai perkataan ‘Jannah’, maka kita melihat huruf  -jim- dan mencari perkataan Jannah, maka, akan tersenarailah semua ayat-ayat yang mempunyai perkataan ‘jannah’, beserta dengan ayat, surah dan juzuznyz.  

Friday, April 5, 2013

al-Mu'jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadith al-Nabawi


Kitab al-Mu'jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadith al-Nabawi adalah susunan Arent J. Wensinck seorang orientalis. Wensinck tidaklah menyusun Mu’jam ini berseorangan, beliau dibantu oleh beberapa orientalis yang lain seperti Dr. Y. B. Monsej dari Universiti Leiden, Y. B. Dye Hasz, Y. B. Fonne Lone, Y. T. B. Dye Barwin dan Y. B. R. Herman. Penyusunan Mu’jam ini juga turut dibantu oleh Muhammad Fu’ad Abd al-Baqiy dari Mesir.

Kitab ini mempunyai indeks hadith-hadith dari sembilan buah kitab hadith utama atau lebih dikenali dengan panggilan Kutub al-Tis’ah. Kutub al-Tis’ah bermaksud sembilan kitab hadith utama iaitu, Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmizi, Sunan Ibn Majah, Sunan al-Nasa’i, Muwatta’ Malik, Sunan al-Darimi dan Musnad Ahmad. Oleh kerana itulah ia sudah memadai apabila kita merujuk kitab Mu’jam ini dalam mencari hadith-hadith yang terdapat di dalam sembilan buah kitab hadith tersebut.

Dr. Mahmud al-Tahhan meletakkan kitab ini di dalam kaedah yang khusus dalam proses mentakhrij hadith. Sekiranya kita menggunakan kaedah melalui lafaz awal matan ia memerlukan kita mengesahkan terlebih dahulu lafaz tersebut adalah lafaz yang pertama dengan tepat. Jadi, sekiranya kita ingin mencari hadith menggunakan lafaz yang berada di tengah atau diakhir matan, sudah tentu sukar untuk mencarinya dengan kaedah lafaz pertama. Jadi dengan adanya kaedah dan kitab Mu’jam ini, ia akan lebih memudahkan kita untuk mencari hadith.


Senarai sarjana dan orientalis yang terlibat bagi menyiapkan jilid pertama;

Kebanyakan orientalis yang terlibat adalah antara pakar-pakar dalam bidang manuskrip dan ilmu-ilmu Islam. Contoh, J. Horovitz adalah seorang Yahudi antara pentahqiq awal yang mentahqiq Tabaqat Ibn Sa'ad dan beberapa karya sejarah Islam lain. A. Guillaume pula adalah penterjemah Sirah Ibn Hisyam. P. Voorhoeve pula merupakan pakar manuskrip karya-karya sarjana Islam. Walau bagaimanapun, ada di antara mereka yang menulis buku-buku yang prejudis kepada Islam.                              

                                                                                                                                                        
Kaedah pentakhrijan hadis menggunakan Mu’jam al-Mufahras[1];

Pentakhrijan hadis dengan kitab ini akan efektif dan efesien apabila terdapat kesamaan versi antara kitab-kitab milik seorang pentakhrij dengan maraji’ (literatur) yang dipergunakan dalam al-Mu’jam. Hal ini penting untuk diperhatikan kerana proses percetakan kitab-kitab di atas telah menimbulkan beragamnya versi, sehingga sistem penomboran bab, hadis, jilid, dan halaman tidak sesuai dengan sistem penomboran yang dimaksud oleh al-Mu’jam. Jika demikian halnya, penggunaan kitab ini menjadi tidak efesien, sebab akhirnya waktu akan tersita banyak dipergunakan untuk menelusuri nombor-nombor tersebut, yang tidak menutup kemungkinan terjadi selisih puluhan nombor.

Untuk mengetahui versi manakah kitab-kitab yang dapat dijadikan acuan dalam menelusuri maraji’ versi al-Mu’jam, kami kemukakan keterangan sebagai berikut:

[a] Shahih al-Bukhari

Para ulama yang sezaman dengan Wensick bahkan terlibat secara aktif dalam transliterasi (penerjemahan) al-Mu’jam ke dalam bahasa Arab, khususnya Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqiy, telah berupaya menetapkan sistem penomboran kitab, bab, dan hadis sesuai dengan penomboran Shahih al-Bukhari versi al-Mu’jam. Upaya Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqiy ini dijadikan acuan oleh beberapa penerbit atau percetakan ketika mempublikasikan Shahih al-Bukhari, antara lain al-Maktabah al-Islamiyah, Istanbul-Turki, tahun 1979. Shahih al-Bukhari edisi ini merupakan tashwir (copy ulang) dari edisi perdana tahun 1315 H. sebanyak 8 juz (4 jilid). Sistem penomoran kitab dan bab pada edisi ini telah disesuaikan dengan Shahih al-Bukhari versi al-Mu’jam. Di samping itu dapat digunakan pula Shahih al-Bukhari cetakan manapun yang mengacu pada sistem penomboran Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqiy pada kitab Fath al-Bari syarh Shahih al-Bukhari, cetakan al-Salafiyah, Kaherah, Mesir.

[b] Shahih Muslim

Shahih Muslim yang sesuai dengan versi al-Mu’jam adalah [a] cetakan Isa al-Babi al-Halabi, Kairo-Mesir; [b] terbitan Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Kairo-Mesir, tahun 1374 H/1955 M. Keduanya dicetak sesuai dengan sistem penomoran Muhammad Fuad 'Abd al-Baqiy.

[c] Sunan al-Tirmidzi

Sunan al-Tirmidzi yang dijadikan maraji’ oleh al-Mu’jam adalah Sunan al-Tirmidzi yang telah di-tahqiq (editing) oleh 3 ulama, iaitu Ahmad Muhamad Syakir pentahqiq juz I dan II; Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqiy pentahqiq juz III; Syeikh Ibrahim ‘Uthwah ‘Audh sebagai pentahqiq juz IV dan V. Walaupun sistem penomboran pada juz I dan II terdapat sedikit perbezaan. Sunan al-Tirmidzi versi ketiga ulama ini telah diterbitkan oleh Isa al-Babi al-Halabi, Kaherah-Mesir pada tahun 1356 H/1937 M. Kemudian dicetak ulang oleh Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut-Lebanon, tahun 1408 H/1987 M, dilengkapi dengan fahras (indeks) sesuai dengan penomboran al-Mu’jam al-Mufahras dan Tuhfah al-Asyraf.

[d] Sunan Abu Daud

Sunan Abu Daud yang sesuai dengan versi al-Mu’jam adalah Sunan Abu Daud dengan tahqiq (editing) Izzet Ubaid al-Du’as dan ‘Adil al-Sayyid, yang dipublikasikan oleh Dar al-Hadits, Himsh-Syria, tahun 1393 H./1974 M. Juga dengan tahqiq Syekh Muhyi al-Din Abd al-Hamid, terbitan Dar al-Fikr.

[e] Sunan al-Nasai

Sunan al-Nasai yang sesuai dengan versi al-Mu’jam adalah terbitan al-Maktabah al-Tijariah al-Kubra, Kaherah tahun 1347 H/1928 M. Serta terbitan dengan hasyiah (komentar ringkas) Imam al-Suyuthi dan al-Sindi, namun tanpa penomboran bab. Kemudian Dr. Abd al-Fatah Abu Guddah telah berupaya menomborinya, dilengkapi dengan fahras.

[f] Sunan Ibn Majah

Sunan Ibn Majah yang sesuai dengan al-Mu’jam adalah terbitan al-Isa al-Babi al-Halabi, Kaherah, dengan sistem penomboran Muhammad. Fuad ‘Abd al-Baqiy Edisi Abd al-Baqi ini diterbitkan pula oleh Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Kairo, tahun 1372 H./1952 M.

[g] Sunan al-Darimi

Sunan al-Darimi yang sesuai dengan versi al-Mu’jam adalah terbitan Madinah, tahun 1386 H./1966 M., Abdullah Hasyim al-Yamani.

[h] Muwatha Malik

Muwatha Malik yang sesuai dengan versi al-Mu’jam adalah terbitan al-Isa al-Babi al-Halabi, Kaherah, dengan sistem penomboran Muhammad. Fuad Abd al-Baqiy. Khusus untuk kitab Muwatha Malik, Wensinck dan kawan-kawan memberikan pedoman pada pengantar jilid I tentang berbagai kitab [topik] yang dimuat pada Muwatha Malik serta metode penulisan topik itu pada al-Mu’jam.

[i] Musnad Ahmad

Musnad Ahmad yang sesuai dengan versi al-Mu’jam adalah edisi perdana cetakan al-Mathba’ah al-Maimuniyyah, Mesir, tahun 1313 H/1919 M. Kemudian dicopy oleh Maktabah al-Islami dan Dar Shadir, Beirut, dan diterbitkan sebanyak enam jilid bersama kitab Muntakhab Kanz al-'Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al pada hamisy-nya (pinggir halaman kitab). Pada jilid pertama disertakan fahras rawi-rawi kitab musnad susunan Syeikh Nashir al-Din al-Albani.

Apabila rujukan yang dipergunakan seorang pentakhrij sesuai dengan versi-versi di atas, maka pentakhrijan hadis dengan kitab al-Mu’jam relatif lebih mudah dilakukan.

[1] Artikel berikut dinukil dengan sedikit ubahsuai ejaannya dari

Tuesday, April 2, 2013

al-Mankhul min Ta'liqat al-Ushul


Kitab al-Mankhul min Ta’liqat al-Ushul (المنخول من تعليقات الأصول ) merupakan sebuah karya terawal al-Imam Hujjah al-Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi ( أبو حامد محمد الغزالي ) dalam ilmu usul fiqh.  Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450H/1058 dan wafat pada tahun 505H /1111M.

Kandungan kitab al-Mankhul ini asalnya merupakan nota catatan Imam al-Ghazali ketika menghadiri majlis ilmu yang disampaikan oleh gurunya,iaitu Imam Haramain Abu al-Ma’ali al-Juwayni (478H/1085M). Sebelum gurunya wafat, al-Ghazali sempat membukukan catatan-catatan kuliah ushul fiqhnya dan menamakan himpunan catatan tersebut dengan judul al-Mankhul min Ta’liqat al-Usul. Beliau menunjukkan kitab tersebut kepada gurunya. Imam al-Juwayni memuji kecerdasan dan keilmuan al-Ghazali.

Sebenarnya, kandungan kitab al-Mankhul bukan sekadar catatan atau idea-idea yang yang disampaikan Imam al-Juwayni dalam kuliah ilmunya, tetapi banyak dipenuhi dengan tambahan yang bernas berupa ta’liq (catatan) daripada idea-idea al-Ghazali sendiri. Kitab ini menjadi rujukan yang penting dalam ilmu usul fiqh di samping karya-karya al-Ghazali yang lain, khususnya kitab al-Mustashfa fi Ushul al-Fiqh, iaitu kitab usul fiqh yang lebih besar yang mencakupi beberapa jilid tebalnya.

Kitab ini boleh didownload melalui pautan berikut;


Semoga bermanfaat.