Showing posts with label Artikel Pilihan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Pilihan. Show all posts

Friday, June 22, 2012

Pandangan HAMKA Terhadap al-Imam al-Ghazali & al-Ihya Ulumuddin

Sambutan Al-Ustadz Al-Fadlil Dr. H.A. Malik Karim Amrullah (Dr.HAMKA)
SAMBUTAN TERJEMAHAN IHYA' ULUMIDDIN


Kitab Ihya' Ulumiddin, buah tangan Al-Imam Al-Ghazali adalah salah satu karya besar dari beliau dan salah satu karya besar dalam perpustakaan Islam. Meskipun ada berpuluh lagi karangan Ghazali yang lain, dalam berbagai bidang ilmu Pengetahuan Islam, namun yang menjadi inti-sari dari seluruh karangan-karangan beliau itu ialah Kitab Ihya' Ulumiddin.
Beliau pilih untuk menjadi judul nama bukunya Ihya' Ulumiddin, artinya ialah: MENGHIDUPKAN KEMBALI PENGETAHUAN AGAMA.

Sebabnya maka itu judul yang beliau pilih, ialah karena pada waktu itu ilmu-ilmu Islam sudah hampir teledor oleh ilmu yang lain, terutama oleh filsafat Yunani, khusus Filsafat Aristoteles te­lah disambut dengan amat asyiknya oleh ahli-ahli fikir Islam, yang dipelopori oleh Al-Farabi, Ibnu Sina dan lain-lain di Timur dan ke­mudian menjalar pula ke Barat (Andalusia dan Afrika Utara), sesu­dah Ghazali, yang dipelopori oleh Ibnu Rusyd.

Filsafat Yunani itu pada waktu itu dinamai 'Ulumul Awail, artinya Pengetahuan orang zaman purbakala.

Oleh sebab Islam sangat berlapang dada menerima segala macam ilmu pengetahuan ataupun hikmat, walau dari manapun datang­nya, maka dalam abad-abad kedua dan ketiga hijriyah, teruta­ma di zaman permulaan fajar Daulat Bani `Abbas, banyaklah pe­ngetahuan lain bangsa disalin ke dalam bahasa Arab, guna memper­kaya perpustakaan dan buah pikiran Arab Islam sendiri. Sebab ke­majuan Islam dan Daulah Islamiyah dalam lapangan politik dan pengaruh kebudayaan, tidaklah akan dapat bertahan lama kalau pemikiran dari sarjana-sarjana tidak meluas dan mendalam.

Majulah Islam dalam lapangan fiqhi, ilmu kalam, tasawwuf dan filsafat. Tetapi kadang-kadang Ilmu Islam yang asli telah teledor oleh karena kemajuan dalam bidang yang tersebut di belakang ini, yakni filsafat. Al-Ghazali telah tampil ke muka mempersiapkan dirinya dengan ilmu-ilmu yang ada pada masa itu. Beliau memper­dalam Ilmu -Kalam, beliau memperdalam fiqhi (Ilmu Hukum) dan perhatian beliau akhirnya amat tertarik kepada Filsafat sampai di­pelajarinya pula amat mendalam. Hasil dan buah dari penyelidik­annya terhadap Filsafat itu telah diungkapkannya dalam buku-bu­kunya "Al-Munqidzu minadl dlalal" (Pembangkit dari lembah ke­sesatan), "Maqashid al-Falasifah" (Tujuan dari pada para Failasoof) dan "Tahafut al-Falasifah" (Kekacau-balauan para Failasoof).

Beliau — setelah pengembaraan dalam alam pikiran yang menda­lam itu— telah menyatakan kesimpulan bahwa filsafat itu, baik juga untuk melatih kita berfikir. Tetapi jadi amat berbahaya kalau sekiranya pikiran yang akan dipergunakan bagi berfilsafat tidak terlatih terlebih dahulu dengan tuntunan Wahyu Ilahi dan ­tuntunan Nabi. Ada orang mengatakan bahwa berfikir filsafat itu harus bebas, obyektif, jangan ada yang mempengaruhi terlebih da­hulu. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidaklah ada seorang manusiapun yang dapat membebaskan dirinya dari pada pengaruh alam dikelilingnya. Apakah lagi — menurut Ghazali — Failasoof-Failasoof Yunani yang mempengaruhi berfikirnya Failasoof-Faila­soof Muslim seumpama Al-Farabi dan Ibnu Sina, karena penera­wangan berfikir bebas itu, telah sampai kepada kesimpulan bahwa Alam itu adalah qodim penaka Tuhan juga. Disini Filsafat sudah menjauh sendirinya dari pada pokok ajaran agama.

Lantaran itu maka Ghazalipun amat menyuruh hati-hati di da­lam belajar 'Ilmul Kalam, IIlmu Theologi dalam Islam. Untuk orang awam —kata beliau— 'Ilmul Kalam itu lebih besar bahayanya daripada manfaatnya, sehingga beliau keluarkan sebuah risalah ber­nama "Iljamul 'Awam" (Mengekang orang awam) dari pada mem­bicarakan Ilmu Kalam. Iman kepada Allah— menurut Ghazali- ti­daklah dapat dengan dipelajari secara "akal semata", melainkan hendaklah karena dirasakan, demi setelah meleburkan diri keda­lam persada Alam yang ada dikeliling kita.

Setelah nyata bahwa dengan filsafat bukan, dengan 'Ilmul Kalam bukan, dengan debat-berdebat (jidal) Ilmu Fiqhi-pun bukan, ma­nakah jalan yang dapat mencapai kepada Tuhan itu?

Ghazali akhirnya berpendapat bahwa mendekati Tuhan, merasa adanya Tuhan dan ma'rifat kepada Tuhan, hanya dapat dicapai dengan menempuh satu jalan, yaitu jalan yang ditempuh oleh kaum Shufi.

Ghazalipun insyaf bahwasanya di zamannya pertentangan kaum syari'ah amat besar dengan kaum Shufi atau kaum Hakikat. Kaum Fuqaha menghabiskan waktunya di dalam membincangkan syah dan bathal, dengan mengabaikan perhatian kepada kehalusan perasaan, sedang kaum Shufi saling terlalu memupuk perasaan (dzauq) kadang-kadang tidak memperdulikan mana amalan, ibadat dan syari'at yang sesuai dengan Sunnah Rasul dan mana yang tidak.

Tasawwuf perlu untuk memupuk perasaan halus manusia, atau `athifah. Tetapi kadang-kadang terlanjur keluar dari garis syari'at. Syari'at perlu untuk mengatur kehidupan sehari-hari menurut jalan Rasul, tetapi kadang-kadang menjadi kaku dan kehilangan intisari karena hanya tunduk kepada yang tertulis belaka sehingga kebebas­an manusia buat berfikir, buat merasa dan buat berfantasi menjadi hilang.

Syari'at tanpa hakikat, menjadi bangkai tak bernyawa. Hakikat tanpa syari'at menjadi nyawa tak bertubuh.

Ghazali berusaha mempersatu-padukan keduanya. Dengan dasar itulah beliau ingin menghidupkan kembali Ilmu Agama: IHYA' 'ULUMIDDIN.

Dengan bersumber kepada Al-Quran, dengan kembali kepada Sunnah Rasul yang asli, kita bongkar dan kita gali ilmu yang sejati. Di dalamnya terkandunglah hikmat-hikmat yang tinggi, yang kadang-kadang mungkin dapat dinamai filsafat, kadang-kadang dapat dinamai Ilmul Kalam, Fiqhi dan lain-lain, apatah lagi buat mengetahui rahasia yang terkandung dalam hati (Asroril-Qulub).

Apabila ilmu telah dihidupkan kembali, syari'at mesti bertemu dengan hakikat, amal saleh mesti dinyawai oleh Iman dan di sam­ping riadlah jasmani (latihan badan) kita adalah riadlah annafs atau riadlah qalb (latihan jiwa atau latihan hati). Disitulah kita mendapat "Haqiqat al Hajah (hidup yang sejati).

Sejak daripada ibadat, sembahyang, puasa, zakat dan hajji, sampai kepada mu'amalat (pergaulan hidup manusia sehari-hari), sampai kepada munakahat (pembangunan rumah tangga), sampai kepada hukum-hukum pidana, semuanya beliau cari isi dan umbinya,inti atau sarinya dalam alam hakikat dan hikmat, sehingga hidup kita sebagai muslim berarti lahir dan bathin.

Maka kitab "IHYA' 'ULUMIDDIN" adalah hasil karya positif sesu­dah beliau ragu (syak, sceptis) terhadap segala persoalan dalam bidang kepercayaan dan akhirnya keraguan itu sedikit demi sedikit mulai hilang, berganti dengan yakin. Dan itulah yang beliau hidang­kan ke dalam masyarakat muslim.

Sebagai seorang ahli fiqih Islam yang besar, karangan beliau ini mendapat sambutan hangat. Mendapat sanjung puji yang tinggi dan juga mendapat sanggahan yang hebat.

Di zaman pemerintahan Sultan Yusuf bin Tasyfin di negeri Maghribi di Fas (Fez) kaum Fuqaha sangat murka kepada Ghazali, sebab karangannya Ihya' 'Ulumiddin banyak mengeritik kaum ahli fiqhi, yang sudah menjauh daripada Al-Qur'an dan hanya tengge­lam ke dalam taqlid. Fuqaha marah, sehingga mengusulkan kepada Sulthan supaya Ihya' dibakar saja dan dilarang keras peredarannya ke Maghribi. Di kala disampaikan orang berita itu kepada Ghazali serta-merta beliau berkata: "Tuhan akan merobek kerajaan mereka sebagaimana mereka telah merobek kitabku".

Tiba-tiba muncullah dalam majlis itu, murid beliau Muhammad bin Taumrut, yang bergelar Al-Mahdi, lalu berkata : "Wahai Imam! Doakanlah kepada Tuhan bahwa keruntuhan kerajaan Bani Tasyfin akan terjadi di tangan saya".

Kemudian memang jatuhlah kerajaan Murabithin, digantikan oleh murid Imam Ghazali yang bernama Muhammad bin Taumrut itu, dengan nama Kerajaan Muwahhidin. Bila Imam Ghazali menge­tahui bahwa muridnyalah yang menjadi raja, dan kitab beliau telah diakui kembali di negeri itu, beliau berniat hendak hijrah ke Magh­ribi. Sayang sekali sebelum beliau berangkat, beliau meninggal du­nia tahun 505 H. dalam usia 55 tahun.

"Ihya' 'Ulumiddin" adalah salah satu karya besar, yang diakui besar fikiran yang terkandung di dalamnya. Ds. Zwemmer, to­koh sending Kristen yang terkenal, berpendapat bahwa sesudah Nabi Muhammad saw. adalah dua Pribadi yang amat besar jasanya menegakkan Islam, pertama Imam Bukhari karena pengumpulan Haditsnya, kedua Imam Ghazali karena "Ihya'-nya".

Segala sesuatu apabila telah tercapai kesempurnaannya, nam­paklah di mana kekurangannya. "Tanda gading yang tulen, ialah retaknya". Alam ini sendiri menjadi amat sempurna, karena serba kekurangannya. Tuhan mencipta 'Alam dalam kesempurna­annya, karena ada kekurangannya. Kalau tidak ada yang cacat niscaya Allah Ta'ala tidak kaya karena tidak menjadikan sesuatu yang bernama cacat.

Demikian juga kitab-kitab karangan Ghazali terutama Ihya' 'Ulu­middin ini. Kadang-kadang beliau, lantaran asyiknya memperi­ngatkan kesucian hidup, telah jatuh kepada bersangatan mencela dunia. Orang yang terpengaruh oleh ajaran Ghazali tentang cacat dunia, maulah rasanya mengutuk sama sekali dunia itu. Mengutuk dunia bisa menyebabkan dunia itu lepas dari tangan kita, hingga dipungut oleh orang lain, sehingga negara-negara Islam terjajah.

Kadang-kadang beliau menganjurkan hidup membujang, tak usah beristeri. Supaya beban hidup dalam munajat kepada Tuhan menjadi ringan, padahal ajaran asli Islam tidak mengajarkan demikian.

Dan yang lebih penting lagi, sebagai seorang ahli pikir yang bebas dan besar, beliau membebaskan pikirannya dari pengaruh penafsir-penafsir yang terdahulu daripadanya, tetapi hadits-hadits yang dijadikannya dalil, kerapkali tidak memperhatikan ilmu sanad hadits, sehingga sebagaimana ditulis oleh ayahku dan guruku Syaikh Abdulkarim Amrullah dalam bukunya Sullamul Ushul membaca Ihya' musti hati-hati, karena banyak haditsnya lemah.

Itulah menjadi bukti bahwasanya seorang sarjana atau seorang failasoof yang besar tidaklah melengkapi ilmunya dalam segala -bidang. Ghazali lemah dalam ilmu hadits, tetapi dia besar dalam penciptaan fikiran. Sebagaimana juga Ulama-Ulama Ahli Hadits, kebanyakannya tidak sanggup buat menciptakan fiqhi atau menge­luarkan faham bebas, sebab amat terikat oleh hadits-hadits, sehing­ga fikirannya menjadi buntu karena kekuatan hafalan.

Perhatikan kepada ajaran Filsafat Ethika (Akhlaq) Al-Ghazali sampai saat-saat sekarang ini masih menjadi bahan yang kaya untuk direnungkan. Setengah ahli selidik dan orientalist Barat ber­pendapat bahwa keragu-raguan Descartes adalah pengaruh keragu-raguan Ghazali. Ragu (skeptis, syak) adalah tangga utama menuju yakin. Pada tahun 1924 Zaki Mubarak di Mesir mencapai gelar Doktornya karena kritiknya yang bernama "Akhlaq menurut Ghazali" yang sebagai seorang sarjana yang masih muda dia menghantam ajaran Ghazali sebagai suatu ajaran yang menyebabkan jiwa melempem. Tetapi setelah dia berusia lebih 40 tahun dikeluarkan­nya pula promosinya untuk gelar doktor yang ketiga-kalinya berna­ma "Tasawwuf Islam", yang kalau dibaca, ternyata bahwa pukulannya kepada Ghazali khasnya dan Tasawwuf 'amnya, tidak sekeras dahulu lagi. Di tahun 1947 Dr. Sulaiman Dunia Maha Guru Filsafat dan 'ilmu Kalam di Al-Azhar University mengeluarkan lagi study­nya "Hakikat menurut pandangan Ghazali ". Ditahun terakhir sam­pai tahun 1963 masih tetap ada sarjana Islam yang meninjaunya kembali.

Kupasan Ghazali tidak akan habis-habisnya menjadi bahan study tentang tasawwuf, tentang aqidah, tentang filsafat dan ethika (akhlaq).

Demikian itulah selayang pandang saya tentang IHYA' 'ULUMID­DIN oleh "Hujjatul Islam" Al-Ghazali.

Di dalam perkembangan ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islam di Indo­nesia, tasawwuf Imam Ghazali dengan Ihya'-nya besar sekali peranannya. Madzhab Sunni yang masuk kemari sejak zaman kera­jaan Islam Pasai ialah Madzhab Syafi i. Imam Ghazali adalah seo­rang Ulama Muta-akhkhirin dalam madzhab itu.

Tasawwuf "Wihdatul Wujud" (Pantheisme) Al-Hallaj yang mu­lanya amat berpengaruh di sini menjadi terdesak karena datang­nya ajaran Ghazali. Kitab Ihya' `Ulumiddin menjadi pegangan ula­ma-ulama di tanah air kita. Syaikh Abdus Samad Al-Falimbani diu­jung abad kedelapan belas telah mengambil inti-sari kitab Ihya` dan menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia (Melayu Lama) dengan nama "Sairus-Salikin". Demikian juga terdapat dalam karangan-karangan Ulama-ulama Aceh. Kitab Ihya` pun telah disarikan oleh Ulama-ulama di Jawa ke bahasa Jawa huruf Pegon. Dizaman mo­dern ini, saya sendiri amat banyak mengambil buah renungan Gha­zali untuk buku saya "Tasawwuf Modern". Tetapi belum ada usa­ha selama ini menyalin kitab yang besar 4 jilid itu ke dalam bahasa Indonesia modern.

Tiba-tiba pada bulan Rajab 1383 Hijriyah, bertepatan dengan hari-hari peringatan Isro' dan Mi'roj Nabi Muhammad saw. seorang Ulama Muda dari Aceh, yang telah lama saya kenal, yaitu Tengku Haji Ismail Yakub MA-SH, telah datang kerumah saya memperlihatkan salinan (terjemahan) Kitab Ihya' Ulumiddin ke dalam bahasa Indonesia yang beliau kerjakan sendiri dan meminta saya supaya sudi memberikan kata sambutan atas usahanya yang amat berharga itu.

Tidak pelak lagi kalau saya bergembira menyambut usaha beliau itu. Perhatian kepada Islam dan inti ajarannya di zaman seka­rang telah mulai besar di tanahair kita ini. Banyak kaum terpe­lajar secara Barat mulai memperhatikan Islam. Banyak mereka mendengar nama kitab Ihya' atau membaca adanya kitab itu dari kalangan Orientalist Barat, sayang mereka tidak mengetahui bahasa Arab. Terjemahan Ustadz Tengku H. Ismail Yakub ini sudah dapat memuaskan dahaga mereka.

Banyak telah berdiri Perguruan Tinggi Islam. Sayangnya mahasiswa kebanyakan lemah bahasa Arabnya. Dengan salinannya Ihya' mereka sudah dapat membandingkan fikiran ciptaan Failasoof Islam ini dengan aliran-aliran filsafat yang lain. Baik Filsafat Yunani atau Filsafat Scholastik Kristen atau Filsafat Modern.

Mubaligh-mubaligh pun mendapat banyak bahan untuk study. Dan lebih dari itu semuanya dengan membaca salinan Ihya' ini, dengan sendirinya moga-moga isinya yang bernas dapat mempe­ngaruhi jiwa kita, sehingga kita dapat menjadi seorang Muslim yang tha'at dan cinta kepada Allah dan Rasul Allah.

Dalam pembangunan bangsa kita sekarang ini, yang kita seba­gai Muslim amat ingin agar Islam menjadi unsur mutlak dalam pefnbangunan itu, maka terjemahan Ihya' Ulumiddin ke dalam bahasa Indonsia oleh Ustadz Tk. H. Ismail Yakub MA-SH., adalah satu karya yang amat saya pujikan.

Moga-moga Tuhan Allah memberi taufiq kita bersama dalam menuju ridlaNya.

Dr. H.A. Malik KarimAmrullah
Kebayoran Baru, Jakarta: Rajab 1383.
Desember 1963.

Tuesday, June 19, 2012

Bentuk Penulisan Kitab Fiqh


Mempelajari Ilmu fiqh adalah suatu perkara yang sangat digalakkan.Melalui ilmu fiqh kita akan dapat memahami setiap hukum hakam Islam dengan pengetahuan yang baik dan sempurna.Apatah lagi jika kita mampu untuk memahami setiap perbahasan yang diutarakan oleh para ulama atau fuqaha tentang sesuatu permasalahan dengan tepat.

Walaubagaimana pun , sering kali kita mendengar ramai dikalangan penuntut ilmu merasa bosan dan cepat berputus asa apabila tiba pada suatu tahap tidak dapat memahami ilmu yang ingin dipelajari dengan baik dan betul.

Antara penyebab utama perkara ini berlaku ialah , kebanyakkan mereka tidak mengetahui bagaimana sesuatu ilmu atau permasalahan itu ditulis dan dibahaskan oleh para fuqaha dalam kitab-kitab karangan mereka.Secara umumnya terdapat berbagai-bagai cara dan jenis penulisan para fuqaha dalam bidang Ilmu fiqh ini.Ianya dapat dibahagikan kepada beberapa jenis penulisan seperti dibawah :

1. Matan
2. Syarh
3. Hasyiah

Mari kita lihat satu persatu apakah maksud ketiga-tiga jenis penulisan tersebut.

Matan :

Matan adalah kitab yang ditulis secara ringkas.Penulis hanya memuatkan fakta-fakta penting tanpa memasukkan sebarang penerangan yang panjang dan terperinci terhadap sesuatu permasalahan dalam fiqh.Penulis kitab jenis ini kebiasaannya akan menggunakan istilah-istilah yang dianggap tepat dan menyeluruh.

Kitab-kitab jenis ini agak sukar untuk dibaca sekiranya tidak terdapat ulasan atau syarah dari mana-mana ulama atau fuqaha yang menerangkan maksud dan makna pada setiap baris matan yang ditulis dalam kitab-kitab tersebut.


Apa yang perlu diketahui juga ialah , kadang-kadang matan ditulis oleh para fuqaha sebagai ringkasan yang dibuat dari kitab lain yang dikenali sebagai mukhtasar.Seperti kitab al-Muharrar karangan Imam al-Rafi’iyy yang diringkaskan dari kita al-Wajiz karangan Imam al-Ghazali.Malah terdapat juga mukhtasar yang dibuat terhadap kitab mukhtasar yang seperti kitab Minhaj al-Talibin karangan Imam Nawawiyang meringkaskan kitab al-Muharrar.


Antara bentuk penulisan kitab jenis ini juga ialah ianya ditulis dalam bentuk nazam atau syair yang bertujuan untuk memudahkan para pembaca atau pelajar menghafal setiap baris matan yang tertulis.Sebab itu lah kitab jenis ini jarang digunakan sebagai rujukan melainkan oleh orang yang telah pun terlebih dulu mempelajarinya atau dirujuk bersama-sama dengan kitab lain.

Contoh beberapa buah kitab Ilmu Fiqh yang ditulis dengan cara penulisan jenis ini ialah :

a. Bidayat al-Mubtadi’ oleh al-Marghinaniyy ( ulama mazhab hanafi )
b. Matn atau Mukhtasar Khalil , karangan Syaikh Khalil Ibn Ishaq ( Ulama mazhab Maliki )
c. Al-Ghayah wa al-taqrib oleh Abu Syuja’ ( ulama mazhab Syafie )
d. Mukhtasar al-Khiraqiyy karangan Abu Al-Qasim Umar Ibn Al-hasan al-Khirraqiy
( ulama mazhab hanbali)


Syarh :

Kitab jenis ini adalah kitab yang ditulis untuk mengulas dan mensyarahkan matan atau mukhtasar.Penulis kitab ini akan mengulas setiap istilah dan kenyataan yang sukar atau kabur pemahamannya.Ulasan juga dibuat terhadap pandangan dan ijtihad ulama lain terhadap sesuatu masalah yang diperbahaskan.Penulis kitab ini juga kebiasaannya tidak melakukan pentarjihan terhadap pendapat atau pandangan ulama-ulama yang mengarang kitab tersebut.


Pengulas atau pen’syarah’ akan mengulas atau mensyarahkan matan atau mukhtasar yang dihasilkannya sendiri atau pun dari penulisan-penulisan orang lain.Malah terdapat juga Syarh yang mengulas kitab syarh yang lain , seperti kitab Syarh Fathul Qadir karangan Ibnu al-Humam yang mengulas kitab al-Hidayat karangan al-Marghinaaniyy.Kitab ­al-Hidayah pula adalah sebuah kitab syarh yang mengulas kitab Bidayat al-Mubtadi’ karangan al-Marghinaaniyy sendiri.


Apa yang jelas , kitab jenis ini kebiasaannya mempunyai jumlah halaman yang banyak.Ini kerana kebanyakan dari ulama / fuqaha yang menulis dengan metod jenis ini akan menyelitkan atau membawa berbagai-bagai perbahasan hukum-hakam furu’ dalam fiqh untuk dijadikan contoh pada sesuatu permasalahan yang ingin dibahas atau disyarahkan.


Penulis atau pengulas kitab jenis ini juga biasanya mempunyai hubungan dengan penulis kitab asal yang diulasnya , samada sebagai anak murid kepada pengarang kitab asal atau sekurang-kurangnya sebagai pengikut mazhabnya.Sebab itulah kita dapati , jarang sekali terdapat dari kalangan pengulas / pen ‘syarah’ tersebut yang menyanggahi atau menolak pandangan penulis kitab asal yang mereka syarah / ulaskan.

Contoh-contoh kitab jenis ini pula ialah seperti :

a. Bada’ie al-Sana’ie oleh Abu Bakr Ibn Mas’ud Ibn Ahmad al-Kasaniyy.Salah seorang ulama bermazhab Hanafi.Kitab ini adalah ulasan kepada kitab Tuhfah al-Fuqaha yang dikarang oleh al-Samarqandiyy.
b. Mughni al-Muhtaj oleh Muhammad Ibn Ahmad al-Syarbiniyy al-Khatib.Seorang ulama mazhab Syafie yang mengulas atau mensyarahkan kitab Minhaj al-Tholibin yang diikarang oleh al-Imam an-Nawawi.
c. Al-Syarh al-Kabir karangan Muhammad Ibn Abdillah al-Kharashiyy.Seorang ulama mazhab Maliki.Kitab ini adalah ulasan atau kitab syarah bagi kitab Mukhtasar Khalil yang dikarang oleh Khalil Ibn Ishaq.
d. Kasyaf al-Qina karangan Mansur Ibn yusuf Ibn Idris al-Buhutiyy yang merupakan salah seorang ulama Mazhab Hanbali.Kitab ini pula adalah ulasan kepada kitab al-Iqna’ karangan Musa Ibn Ahmad al-Maqdasiyy.

Hasyiah :

Kitab jenis ini pula adalah penulisan kitab fiqh yang berbantuk Ta’liq (komentar) atau Mulahazhat (catatan) yang dilakukan terhadap sesuatu syarh.Bentuknya hampir sama dengan bentuk penulisan secara atau jenis syarh , tetapi bezanya penulis kitab jenis Hasyiah ini hanya akan memilih perkataan-perkataan atau ayat-ayat yang tertentu dalam kitab syarh untuk diulas dengan komentar-komentar atau catatan yang tertentu.

Antara kitab-kitab yang ditulis dengan jenis penulisan hasyiah ialah :

a. Hasyiah Ibn ‘Abidin atau disebut juga Rad al-Mukhtar yang ditulis oleh Muhammad Amin Ibn Umar atau lebih dikenali dengan panggilan Ibn ‘Abidin.Seorang ulama bermazhab Hanafi.Kitab hasyiah ini adalah komentar kepada kitab al-Dur al-Mukhtar yang dikarang oleh al-Haskafiyy.Kitab ini juga merupakan kitab hasyiah yang agak panjang sehingga menyerupai kitab syarh.

b. Hasyiah al-Syarqawiyy yang dikarang oleh Abdullah Ibn Hijaziyy Ibn Ibrahim al-Syarqawiyy , seorang ulama mazhab Syafie.Kitab ini merupakan kitab hasyiah kepada kitab Syarh al-Tahrir karangan Zakaria ibn Muhammad al-Ansariyy.

Selain daripada jenis-jenis atau bentuk penulisan seperti di atas , terdapat juga bentuk-bentuk lain dalam penulisan kitab-kitab fiqh seperti , penulisan kitab fiqh mengikut mazhab , bentuk penulisan secara muqarran (perbandingan) , bentuk ayat dan hadith hukum , bentuk fatwa , usul, qawa’id dan sebagainya.

Semoga dengan kita mempelajari dan mengetahui kaedah dan bentuk penulisan kitab-kitab fiqh ini akan dapat memudahkan kita untuk memahami ilmu fiqh islam dengan lebih mudah dan sempurna.


Monday, June 18, 2012

Mengenal Karya-Karya Imam al-Syafi'i


Imam asy-Syafi’i rahimahullah banyak menghasilkan karya tulis berupa kitab-kitab yang mana sebahagiannya beliau tulis sendiri lalu dibacakan dan dibahaskan kepada masyarakat dan para penuntut ilmu. Manakala sebahagian lagi dikumpulkan dan dibukukan oleh murid dan para pendukung madzhabnya.

Dalam mukaddimah al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat 676 H) disebutkan : “Karya-karya asy-Syafi’i dalam permasalahan ushul dan furu’ yang belum pernah wujud sebelumnya cukup banyak dan baik. Di antara yang masyhur lagi terkenal adalah kitab al-Umm yang jumlahnya mencapai 20 jilid, kemudian al-Jami’ al-Muzanni al-Kabiir dan ash-Shaghiir, Mukhtashar al-Kabir dan ash-Shaghiir, Mukhtashar al-Buwaithi dan ar-Rabi’, al-Harmalah, kemudian kitab al-Hujjah yang merupakan sebahagian dari qaul qadim (karya yang menjelaskan pegangan awal asy-Syafi’i), ar-Risalah al-Qadiimah, ar-Risalah al-Jadiidah, al-Amali, al-Imla’, dan selainnya.” (al-Majmu’, 1/11)

Bahkan ada sebahagian ulama yang menyebutkan bahawa kitab-kitab karya asy-Syafi’i rahimahullah mencapai 113 buah kitab berkaitan tafsir, fiqh, sastra, dan disiplin-disiplin ilmu lainnya. Ada juga yang mengatakan sukar untuk menghitung secara tepat jumlah keseluruhan kitab-kitab karya beliau. Namun sayangnya sebahagian besar dari kitab-kitab yang disusun oleh beliau hilang dan tidak sampai kepada kita hari ini.

Kata Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah (Wafat 1377 H) : “Amat sukar untuk menghitung kitab-kitab beliau kerana banyak di antaranya yang telah luput (hilang). Beliau menulis di Makkah, Baghdad, dan Mesir. Adapun karya-karya beliau yang sampai ke tangan para ulama pada masa ini adalah apa yang ditulisnya ketika di Mesir, yaitu kitab al-Umm antaranya.” (Mukaddimah kitab ar-Risalah tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, m/s. 9 – Daar al-Kitab al-‘Ilmiyyah)

Kitab al-Umm ini adalah sebuah kitab yang dikumpulkan oleh murid Imam asy-Syafi’i yaitu Imam ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi (Wafat 270 H). Beliau menghimpunnya ketika mendengar bab-bab atau perbahasan-perbahasan kandungannya tersebut secara langsung dari asy-Syafi’i atau di masa yang lain. Juga berdasarkan apa yang beliau temui dalam bentuk-bentuk tulisan asy-Syafi’i rahimahullah.

Kata al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (Wafat 852 H) : “Jumlah kitab (perbahasan) dalam kitab al-Umm mencapai lebih dari 140 bab, wallahu a‘lam. Ia dimulakan dengan pembahasan tentang thaharah (bersuci), kemudian kitab ash-shalah, dan seterusnya yang mana beliau susun berdasarkan bab-bab fiqh.” (Dinukil dari kitab Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbaat al-‘Aqiidah karya Dr. Muhammad al-‘Aql, m/s. 48 – Maktabah Adhwa as-Salaf)

Pembahasan yang terkandung dalam kitab al-Umm ini merangkumi pelbagai asas dan penjabaran persoalan agama yang sangat luas. Bahkan ia boleh dikatakan sebagai himpunan pembahasan yang mengumpulkan pendapat-pendapat imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam bidang fiqh, tafsir, dan hadits. Di antara pembahasannya mencakupi aspek thaharah, shalat, hari raya, zakat, jenazah, puasa, haji, ibadah kurban, perburuan, nadzar, jual beli, wasiat, faraidh, peperangan, jihad, pernikahan, hudud, qishash, dan banyak lagi yang lainnya.

Alhamdulillah, kitab al-Umm karya imam asy-Syafi’i yang amat berharga ini telah dicetak dan diterbitkan menjadi beberapa jilid semuanya pada hari ini. Juga telah ada yang siap diterjemahkan dan diringkaskan ke bahasa kita. Cuma sayangnya, amat sedikit dari kalangan kita yang mampu mengambil faedah darinya dan memanfaatkannya dengan betul sebagai sumber ilmu walaupun kita sering mengaku bermazhab Syafi’i.

Selain kitab al-Umm, di antara yang terkenal dan telah diterbitkan adalah kitab Ikhtilaf al-Hadits. Ia diterbitkan oleh penerbit Bulaaq bersama Hasyiyah kitab al-Umm jilid 7. Selain itu juga adalah kitab ar-Risalah. Kedua buah kitab ini adalah di antara kitab yang diriwayatkan melalui jalan ar-Rabi’ bin Sulaiman daripada asy-Syafi’i. Ini adalah sebagaimana kata Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah ketika mentahqiq kitab ar-Risalah karya asy-Syafi’i.

Kata Syaikh Ahmad Syakir, kitab ar-Risalah disusun oleh Imam asy-Syafi’i sebanyak dua kali menjadi ar-Risalah al-Qadiimah (edisi awal) dan ar-Risalah al-Jadiidah (edisi baru). Ar-Risalah al-Qadiimah disusun oleh Imam asy-Syafi’i ketika di Makkah demi memenuhi permintaan ‘Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah (Wafat 198 H) di ‘Iraq ketika itu. Ia adalah kitab dalam bentuk surat untuk ‘Abdurrahman bin Mahdi yang menjelaskan tentang tafsir al-Qur’an, himpunan hadits-hadits yang boleh diterima, penghujahan dengan ijma’, dan penjelasan ilmu nasikh wal-mansukh dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Walau bagaimanapun, kitab ar-Risalah al-Qadiimah yang dimaksudkan tersebut telah pun luput dari kita dan apa yang sampai kepada kita hari ini adalah kitab ar-Risalah al-Jadiidah, dan ia disusun oleh imam asy-Syafi’i setelah selesainya kitab al-Umm. (Mukaddimah ar-Risalah, m/s. 10-11)

Kitab ar-Risalah ini adalah sebuah kitab yang masyhur lagi terbilang dan diketahui umum sebagai kitab rujukan utama dalam bidang ushul fiqh. Bahkan Imam asy-Syafi’i boleh dikatakan sebagai tokoh pertama yang membukukan kaedah-kaedah umum dalam bidang ushul fiqh secara sistematik, lalu para ilmuan setelah beliau pun menjadikannya sebagai rujukan dan mengikutinya.

Badruddin az-Zarkasyi di dalam kitab al-Bahr al-Muhith fii Ushul menyatakan : “asy-Syafi’i adalah ulama pertama yang menyusun buku tentang ushul fiqh. Bagi bidang ushul fiqh ini, beliau menulis kitab ar-Risalah, Ahkam al-Qur’an, Ikhtilaf al-Hadits, Ibthal al-Istihsan, Jama’ al-‘Ilm, dan al-Qiyas. Melalui pelbagai pembahagian bab-bab pembahasan dalam kitab ini, beliau telah menjelaskan seluk-beluk penghujahan dengan hadits ahad, membentangkan syarat-syarat keshahihan hadits, keadilan para perawi hadits, penolakan khabar mursal dan munqathi’, serta perkara-perkara lain yang bisa diketahui dengan menyimak isi kandungannya.” (Mukaddimah ar-Risalah, m/s. 13)

Kitab ar-Risalah dan bahkan seluruh kitab asy-Syafi’i rahimahullah adalah himpunan kitab-kitab yang sarat dengan bahasa sastra dan adab yang indah di samping pembahasan tentang fiqh serta ushul. Selain ilmu imam asy-Syafi’i dalam bidang fiqh dan ushul, para ulama di zaman beliau turut mengambil dan berhujjah dengan tutur bahasa imam asy-Syafi’i rahimahullah. Ini lantaran kehebatan dan keelokan sastra serta bahasa ‘Arab yang fasih yang dikuasai oleh beliau.
‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan tentang kitab ar-Risalah : “Ketika aku melihat kitab ar-Risalah karya asy-Syafi’i, aku tercegang kerana aku sedang melihat (susunan bahasa) seorang yang bijak, fasih, lagi penuh dengan nasihat sehingga aku memperbanyakkan doa untuknya.” (ar-Risalah, m/s. 4)

Penyusun kitab Sirah Ibnu Hisyam (Wafat 213 H) mengatakan : “Aku telah lama bersama-sama dengan asy-Syafi’i, tetapi aku tidak pernah mendengar beliau berbicara tanpa mengikuti tata bahasa. Aku juga tidak pernah mendengar secara langsung satu ucapan yang lebih indah dari ucapan beliau.”
Kata Syaikh Ahmad Syakir : “Seluruh kitab imam asy-Syafi’i adalah contoh sastra ‘Arab yang murni dan berada di puncak balaghah yang tertinggi. Beliau menulis berdasarkan naluri yang bersesuaian dengan fitrah, tidak dibuat-buat dan tidak dipaksa-paksa. Kitab-kitab beliau adalah penjelasan yang paling fasih yang pernah anda baca setelah al-Qur’an dan hadits, tidak dapat ditandingi oleh satu ucapan pun dan tidak terkalahkan oleh satu tulisan pun.”
Kata Syaikh Ahmad Syakir lagi yang merupakan ulama besar kontemporer yang lahir dalam lingkaran pendidikan Universitas al-Azhar ketika itu : “Kitab ar-Risalah sepatutnya menjadi kitab pengajian wajib di Universitas al-Azhar serta universitas-universitas lainnya. Juga dipilih beberapa bab dari kandungannya untuk dijadikan sebagai bahan pengajian pelajar-pelajar di peringkat menengah dan pusat-pusat pendidikan awal supaya mereka mendapat ilmu pengetahuan dan pandangan hujjah yang benar lagi kuat.” (Mukaddimah ar-Risalah, m/s. 13-14)

Demikianlah apa yang dapat diungkapkan tentang karya-karya milik imam asy-Syafi’i rahimahullah. Karya-karyanya masyhur lagi dikenali bagai matahari yang menyinar di waktu siang. Menjadi rujukan dan panduan buat masyarakat, penuntut ilmu, dan para ulama dahulu dan kini umpama bintang di malam hari. Para ilmuan dulu dan kini berlumba-lumba mendalaminya, mengikutinya, dan melakukan kupasan.

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan : “Adapun karya-karya para pendukung imam asy-Syafi’i yang merupakan penjelasan terhadapan matan (teks perkataan), pernyataan, rangkuman konsep, dan pandangan hasil kaedah-kaedah asy-Syafi’i tidak terhitung jumlahnya. Di samping faedah dan manfaatnya yang sangat banyak, ukuran dan susunannya pun begitu baik. Ini adalah sebagaimana komentar Abu Hamid al-Isfirayini, al-Qadhi Abu ath-Thayyib, pengarang al-Hawi, imam al-Haramain, dan selainnya. Ini semua menjadi bukti nyata akan kedalaman ilmu imam asy-Syafi’i, kebaikan perkataannya, dan kesahihan niatnya dalam ilmu.” (al-Majmu’, 1/12)
Selain kitab-kitab yang telah disebutkan, ada beberapa kitab lainnya yang turut dinisbatkan atau disandarkan ke atas imam asy-Syafi’i rahimahullah seperti kitab al-Musnad, as-Sunan, ar-Radd ‘ala al-Baraahimah, Mihnah asy-Syafi’i, ar-Radd ‘alaa Muhammad bin al-Hasan dan beberapa yang lainnya. Selain kitab-kitab berupa karya tulis beliau sendiri, perkataan dan fatwa-fatwa imam asy-Syafi’i juga turut terhimpun atau dibawakan dalam kitab-kitab para pendukung madzhabnya. Juga dalam kitab-kitab berkaitan biografi para ulama.

Wallahu a’lam...

Thursday, November 17, 2011

Kitab Bahr al-Mazi -karya Ulung al-Marbawi

Kitab Bahr al-Mazi  -karya Ulung al-Marbawi

PENGENALAN PENGARANG

          Beliau ialah Mohd Idris bin Abd Rauf al-Marbawi[1]. Dilahirkan di Makkah al-Mukarramah pada 28 Zulkaedah 1313H bersamaan 1893 M. Pada tahun 1903, beliau dan keluarganya pulang ke tanah air bersama keluarganya.[2]
 
          Beliau seterusnya mendapat pendidikan awal di Sekolah Melayu Lubuk Merbau, Perak. Seterusnya menyambung pelajaran ke Sekolah Pondok Syeikh Wan Muhammad di Bukit Chandan Kuala Kangsar Perak, Pondok Tuan Hussain al-Mas’udi Kedah, Pondok Syeikh Ahmad Fatani di Bukit Mertajam dan seterusnya Pondok Tok Kenali di Kelantan. Kesungguhannya menuntut ilmu terbukti apabila ketika masih berada di Mekah iaitu ketika usianya menjangkau 10 tahun, beliau telah menghafal 10 juzuk al-Quran di samping beberapa kitab lain.[3]

          Setelah memperolehi pelbagai ilmu pengetahuan di merata-rata tempat, Syeikh Mohd Idris al-Marbawi mula bertugas sebagai guru agama di negeri Perak. Namun begitu kecintaan yang sangat mendalam pada ilmu pengetahuan yang ada pada diri beliau telah membawanya ke Universiti al-Azhar untuk menyambung pengajian dan akhirnya pada 1924 beliau telah memperolehi ijazah ‘aliyah daripada universiti berkenaan.[4]

          Di antara karya-karya beliau yang digunakan sehingga ke hari ini ialah Kamus al-Marbawi yang diterbitkan pada tahun 1920-an. Selain dari, kitab Bahrul Mazi yang akan dibincangkan di dalam penulisan ini juga merupakan kitab rujukan masyarakat Melayu sehingga ke hari ini. Karya-karya beliau yang lain ialah Tafsir Quran Nurul Yaqin, Tafsir Surah Yasin[5], Nizam Hayah, Mu’jam al-Ka’inat (4 jilid) dan lain-lain.

          Beliau juga pernah dianugrahkan ijazah kehormat Doktor Persuratan oleh UKM pada 5 Julai 1980. Ia disampaikan oleh Naib Canselor UKM ketika umur beliau 87 tahun.[6] Seterusnya pada 1 Muharram 1408H bersamaan 1987M, beliau telah menerima anugerah Tokoh Maal Hijrah Peringkat Kebangsaan yang pertama. Pada tahun yang sama beliau akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan jasa yang cukup besar kepada ummah ini.

PENGENALAN KITAB BAHRUL MAZI

          Kitab yang menjadi kajian penulis ialah kitab MUKHTASAR SAHIH AL-TURMUDZI WA SYARHUHU BI LUGHAH AL-JAWI AL-MALAYU AL-MUSAMMA BAHRUL MAZI atau di dalam bahasa Melayunya Ringkasan Sahih Tarmizi dan Huraiannya di Dalam Bahasa Melayu Jawi Yang Dinamakan Bahrul Mazi. Di dalam alam Melayu, ia hanya dikenali sebagai Bahrul Mazi. Uniknya, kitab yang berbahasa Melayu ini dicetak dan diterbitkan di Mesir, sesuatu yang tidak pernah berlaku sebelum dan sesudahnya. Kitab ini adalah terjemahan dan ulasan lengkap sesudah diringkaskan daripada Sahih al-Tirmizi. Ia merupakan karya yang pertama sekali di dalam bahasa Melayu yang seumpama dengannya.
          Kitab ini mengandungi 22 jilid (11 buah buku) dan kitab ini sudah diterbitkan. Ia mengandungi 8200 permasalahan agama yang berkaitan dengan hal ehwal dunia dan akhirat.  Kesungguhan, minat dan kecintaan penulisnya untuk menyempurnakan kitab ini dapat dilihat daripada muqaddimah kitab yang telah beliau tulis sebelum memulakan penulisan, antaranya beliau menyatakan :

“Adalah daripasa sudah aku mengaji kitab yang bernama Sahih al-Turmudzi, sudahlah jatuh dalam hatiku berahi dan suka kepadanya oleh aturannya dan kenyataan pada segala hukum syariat Nabi kita Muhammad SAW..”[7]

METOD PENULISAN

          Syeikh Idris al-Marbawi mendahului tulisannya dengan menggarap sebuah mukaddimah yang agak ringkas. Ia didahuli dengan puji-pujian kepada Allah SWT serta selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad SAW dan seterusnya menyatakan minat beliau yang amat mendalam terhadap isi kandungan Sahih Tirmizi. Beliau juga menegaskan bahawa tujuan kitab ini dikarang adalah ikhlas semata-mata kerana Allah SWT untuk meninggikan kalimah Allah serta menyebarkan hadis-hadis nabi kepada masyarakat yang tidak memahami bahasa Arab.

          Kitab ini ditulis menggunakan kaedah penulisan jawi lama yang mengandungi 3,016 hadith serta menghuraikan 8200 permasalahan yang berlainan hukum hakam yang berkaitan dengan hidup manusia di dunia dan akhirat. Ia dimulakan engan hadith niat yang membawa 30 masalah-masalah berkaitan dengan niat.

          Di dalam persoalan sanad, beliau hanya meletakkan seorang sahaja perawi (rawi a’la) sebelum menyatakan nama hadith. Seterusnya beliau menyatakan makna hadith di bawah matan hadith. Ia diikuti dengan huraian hadith dan juga pandangan-pandangan hukum menurut mazhab Syafie di samping menjaga maksud yang ingin disampaikan oleh Imam Tirmizi selaku penulis asal.

          Di dalam menghuraikan permasalahan yang terdapat di dalam hadith, beliau tidak lupa untuk membawa pandangan-pandangan ulama lain yang berbeza dengan diletakkan pandangan mazhab Syafie sebagai keutamaan. Sekiranya terdapat masalah yang berkaitan antara satu sama lain, beliau akan meminta pembaca merujuk semula kepada masalah-masalah yang lalu dengan katanya, “lihat masalah nombor sekian…”

          Di dalam menjelaskan status hadith, al-Marbawi tidak mengulangi penegasan yang dibuat oleh Imam Tirmizi di mana Imam Tirmizi sering memberikan komentar terhadap status mana-mana hadis yang ditulis di dalam sahihnya. Dengan kata lain, penulisan Bahrul Mazi tidak memasukkan komen Imam Tirmizi terhadap satu-satu hadis. Namun, al-Marbawi mengingatkan pembaca berhatihati dari sebarang penyelwengan kerana beliau tidak mengulangi komentar yang dibuat oleh Imam Tirmizi. Oleh kerana itu, beliau turut menulis sedikit mengenai maksud sahih, hasan dan gharib di dalam ilmu hadis selepas muqaddimah kitabnya.

ISI KANDUNGAN

          Isi kandungan kitab ini merangkumi beratus-ratus tajuk yang melibatkan urusan ibadah secara praktikal di dalam kehidupan seorang muslim. Ia boleh dilihat melalui jadual berikut :

Jilid
Jumlah Halaman
Tajuk
Bilangan Hadis
Bilangan masalah
1
227
Menerangkan bicara bersuci dan barang yang takluk dengannya.
126
591
2
232
Menerangkan bicara sembahyang dan barang yang takluk dengannya.
138
454
3
240
Menerangkan bicara sembahyang dan barang yang takluk dengannya.
161
558
4
232
Menerangkan bicara sembahyang, zakat dan barang yang takluk dengannya.
115
519
5
208
Menerangkan bicara puasa dan barang yang takluk dengannya.
110
473
6
224
Menerangkan bicara haji dan barang yang takluk dengannya.
108
458
7
224
Menerangkan bicara umrah dan jenayah dan barang yang takluk dengannya.
114
483
8
224
Menerangkan baki-baki bab jenayah dan membicarakan kitab Nikah
99
330
9
224
Menerangkan bab-bab talak, lia’an dan jual beli.
117
226
10
228
Menerangkan baki-baki bab jualan, bab qadhi, diat dan barang yang takluk dengannya.
180
259
11
224
Menerangkan bicara korban, nazar-nazar, sumpah-sumpah, perjalanan nabi dan barang yang takluk dengannya.
151
486
12
232
Menerangkan bicara perang sabil, pakaian, makanan dan barang yang takluk dengannya.
170
353
13
224
Menerangkan minm-minum, kebaktian, perhubungan rahim dan barang yang takluk dengannya.
152
472
14
224
Melengkapi atas bab-bab perhubungan rahim, perubatan, faraid, wala’, hibab, qadar dan barang yang takluk dengannya.
138
395
15
248
Melengkapi bab huru-hara, ta’bir mimpi dan saksi-saksi.
105
301
16

Melengkapi atas bab-bab mimpi, saksi-saksi dan zuhud.
128
237
17
232
Melengkapi atas bab-bab sifat syurga, neraka, iman dan barang yang takluk dengannya.
109
210
20

Melengkali atas saki-baki bab-bab adab, misal-misal, bab-bab pahala al-Quran dan barang yang takluk dengannya.
127
311
21
255
Melengkapi atas segala bab tafsir
92
335
22
242
Melengkapi atas tafsri setengah-setengah ayat di dalam surah al-Maidah dan lainnya.
95
351

KESIMPULAN

          Secara umumnya, kitab ini merupakan kitab yang mempunyai nilai sejarahnya yang tersendiri kerana merupakan kitab pertama di dalam bahasa Melayu yang membicarakan isu-isu fiqh yang disandarkan kepada hadis. Lebih dari itu, ia merupakan satu pencapaian yang cukup membanggakan bagi seorang anak Melayu dapat menghasilkan karya seperti ini. Sehingga ke hari ini, ia masih relevan untuk dijadikan bahan pengajian dan juga teks kajian oleh masyarakat awam dan juga para pengkaji.


BIBLIOGRAFI

Haji Wan Mohd Saghir bin Abdullah (2000), Warisan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara, Kuala Lumpur : Khazanah Fathaniyyah

Hashim Abdullah, Mohd Arif Ismail, Mohd Nazri ibrahim, Mohd Zulkifli Husain, Kamariah Kamaruddin, Noraina Norani, Rohana Omar (1998), Perspektif Islam di Malaysia, Selangor : Hizbi Sdn. Bhd.

Ismail Che Daud (1996) Tokoh-tokoh Ulama Semenanjung Melayu, Kota Bharu : Percetakan Zulrahin Sdn. Bhd.

Jurnal Usuluddin Bil. 7 (1997) dalam Karya-karya Hadith Dalam Tulisan Jawi, Fauzi bin Deraman, Universiti Malaya, Kuala Lumpur

Kamarul Bakri bin Abdul Aziz (1999), Konsep Ilmu Tauhid Dalam Kitab Jawi, Disertasi Sarjana. Jabtatan Akidah dan Pemikiran Islam, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Kuala Kumpur.

Muhammad Idris Abd Rauf al-Marbawi al-Azhari (1933), Mukhtasar Sahih Al-Turmudzi Wa Syarhuhu Bi Lughah Al-Jawi Al-Malayu Al-Musammas Bahrul Mazi, Matba’ah Mustafa Halabi wa Auladuh, Kaherah, Mesir

M.M Azami (1988), Pengkajian Hadith Kaedah dan Persuratan, Kuala Lumpur : Pustaka Salam.

Nik Abdul Aziz bin Haji Nik Hassan (1977) Sejarah Perkembangan Ulama Kelantan, Kota Bharu : Pakatan Keluarga Tuan Tabal

Persatuan Sejarah Malaysia (t.t), Islam di Malaysia, dalam Nota Ringkas Mengenai Islam di Alam Melayu, Selangor : United Selangor Sdn. Bhd.

Professor Dato’ Dr. Abu Hassan bin Mohd Sham (2004) Ulama Nusantara : Antara Penghasilan Karya Kreatif dan Kitab Jawi, Kuala Lumpur : Bahagian Perhubungan Awam UM

Tajuddin Saman, Abd. Manaf Haji Ahmad (2005), Tokoh-tokoh Agama dan Kemerdekaan di Alam Melayu, Kuala Lumpur, Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia.

Yusoff Zaki Yaacob (1984) Masalah Pengasingan Sasterawan Melayu Dari Intelektualisme Islam, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka





[1] Marbawi ialah nisbah kepada tempat pendidikan awal beliau iaitu di Lubuk Merbau.
[2] Tajuddin Saman, Ab Manaf bin Haji Ahmad (2005), Tokoh-tokoh Agama dan Kemerdekaan di Alam Melayu, Kuala Lumpur, Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia, hal. 62.
[3] Ibid, hal. 63
[4] Hashim Abdullah, Mohd Ariff Ismail, Mohd Nazri Ibrahim, Mohd Zulkifli Husain, Kamariah Kamaruddin, Norainan Norani, Rohana Omar (1998), Perspektif Islam di Malaysia, Selangor : Hizbi Sdn. Bhd. Hal. 3.
[5] Tajuddin Saman, Ab Manaf Haji Ahmad op.cit, hal 64
[6] Ibid, hal 64-65
[7] Muhammad Idris Abd Rauf al-Marbawi al-Azhari (1933), Mukhtasar Sahih Al-Turmudzi Wa Syarhuhu Bi Lughah Al-Jawi Al-Malayu Al-Musammas Bahrul Mazi, Matba’ah Mustafa Halabi wa Auladuh, Kaherah, Mesir,  halaman 2