Wednesday, November 16, 2011

Kitab Nasha-ih al-'Ibad

Kitab Nasha-ih al-‘Ibad Fi Bayan  Alfaz Munabbihat ‘Ala  al-Isti’dad  Li Yawm al-Ma’ad


                                                                                                                                                                                                                

Kitab Nasha-ih al-‘Ibad  fi Bayan Alfaz Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad  merupakan karya al-Sheikh al-‘Allamah Abu Abd al-Mu’thi  Muhammad Nawawi  bin ‘Umar al-Banteni al-Jawi. Seorang ulama nusantara yang terkenal pada abad ke 19 Masihi. Beliau dilahirkan  di Kampung Tanara, Serang, Banten, Indonesia pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 SyeikhMuhammad Nawawi telah menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Perkuburan al-Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi saw.

Kitab Nasha-ih al-‘ibad merupakan syarah atau huraian kepada kitab Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad karya ulama hadis terkenal al-Imam al-Hafiz al-Syeikh Syihabuddin Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad al-‘Asqalani al-Syafi-‘i  [773-852 H ]  yang mengandungi himpunan hadis dan atsar  yang disusun mengikut urutan angka.

Kitab Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad

Nama kitab karya Ibn Hajar al-‘Asqalani ini, diambil dari muqaddimah pengarangnya;

“….Inilah “ Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad ” ( beberapa peringatan untuk persediaan menghadapi hari kiamat )”

Ibn Hajar al-‘Asqalani menerangkan ringkasan kandungan kitabnya;

“ ..maka sesungguhnya sebahagian daripada peringatan itu, ada terdiri dari dua unsur, tiga unsur sehingga ada yang mengandungi sepuluh unsur. Jumlah makalahnya 214, jumlah hadisnya 45, dan bakinya adalah atsar [ kata-kata Sahabat ]”.

Kitab Nasha-ih al-‘Ibad  fi Bayan Alfaz Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad

 Syeikh Muhammad Nawawi al-Jawi telah menamakan kitab syarahnya ini dengan “ Nasha-ih al-‘Ibad  fi Bayan Alfaz Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad ”  sebagaimana di muqaddimah kitabnya;

“…..Ini adalah syarah ( penjelasan ) yang saya letakkan bagi sebuah kitab yang mengandungi nasihat-nasihat  yang dikarang oleh al-‘Allamah, Syihabuddin Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Syafi-‘i, yang terkenal dengan nama Ibn Hajar al-‘Asqalani al-Mishri… . Saya namakan kitab ini; “  Nasha-ih al-‘Ibad  fi Bayan Alfaz Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad ”  . Dan saya memohon kepada Allah yang Maha Pemurah, semoga member manfaat dengan sebab kitab ini kepada kaum muslimin dan semoga Allah menjadikannya sebagai simpanan pada hari kiamat ”

Beberapa maklumat cetakan kitab ini;

  1. Saya hanya menemui sebuah kitab ini dalam bahasa asalnya ( bahasa’Arab ), berikut butirannya;
 -          Judul Kitab : Syarh Nasha-ih al-‘Ibad.
-          Penerbita; Maktabah Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah Indonesia.
-          Bil. Halaman; 80 halaman.
-          Bentuk cetakan;  dicetak seperti kitab kuning / ktab jawi yang biasa beredar di pasaran.

  1. Terjemahan kitab yang ada dalam koleksi saya;
 -     Judul Kitab: Dicetak di kulitnya dengan tulisan Arab “ Nasha-ih al-‘Ibad ”, kemudian dibawahnya disebutkan “ Terjemah Nashaihul Ibad ”  ,  memuatkan 208 makalah, 1072 butir  nasihat bagi hamba Allah ”.
                                                                                                                                                                                               
-          Terbitan: Pustaka Amani – Jakarta , Cetakan 2, 2002.

-       Disebutkan di bahagian atas covernya Ibnu Hajar al-Asqalani dan di halaman dalamnya disebutkan Karya: Ibnu  Hajar al-‘Asqalani, Syarah: Muhammad Nawawi bin ‘Umar.
-        Penterjemah:  Drs. I. Solihin
-       Bil. Halaman;  335 halaman.
-       Matan/redaksi  asal kitab al-Munabbihat dalam bahasa ‘Arab dikekalkan dan terjemahannya di letakan bersebelahan matan. Manakala terjemahan syarah/huraian oleh Syeikh Muhammad Nawawi al-Jawi diterjemahkan tanpa dilampirkan redaksi asalnya dalam bahasa Arab. Ayat al-Quran, hadis dan atsar sahabat serta pendapat ulama/hukamak yang menjadi menjadi sandaran syarahnya dikekalkan dalam bahasa Arab diberikan terjemahannya.

  1. Terjemahan kitab Nasha-ih al-‘Ibad terbitan Perniagaan Jahabersa.
 -          Judul kitab;  Nashaihul Ibad , Nasihat-nasihat agama kepada calon penghuni syurga.
-      Penyusun kitab ;  Disebutkan di covernya nama Imam Nawawi. Ada kekeliruan pada nama penyusun sebenar kitab tersebut  kerana pada pengantar penterjemah pula dicatatkan kitab ini adalah terjemahan  dari kitab “Nashaih al-Ibad fi Bayan Alfaz Munabbihat ‘Ala al-Isti’dad liyawn al-Maad” karya salah seorang  ulama terbilang dari Nusantara yang telah menjadi mufti tanah suci Mekkah tempoh dahulu. Manakala pada pengantar penyusun sendiri memperkenalkan dirinya sebagai Muhammad  Nawawi bin ‘Umar al-Jawi.  Oleh itu penyusun kitab ini bukanlah Imam al-Nawawi  atau nama penuhnya al-Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Syafi’i ( 631-676 H), yang terkenal sebagai tonggak mazhab Syafi’I itu, tetapi  penyusun sebenar ialah al-Syeikh Muhammad Nawawi al-Jawi. Saya terfikir juga kenapa dicatat Imam Nawawi.  Adakah  ini satu tektik pemasaran semata-semata atau berlaku kesilapan editingnya. Mungkin boleh juga dikekalkan nama tersebut dengan tambahan al-Jawi di belakangnya, bagi membezakannya dengan Imam Abu zakariya Yahya al-Nawawi .
-          Penterjemah;  Abu Mazaya Al-Hafiz atau Masruhan Kyai Choteb al-Hafiz
-          Penerbit:  Perniagaan Jahabersa, cetakan 3, 2010
-          Bil. Halaman:  480 halaman.

Tafsir an-Nur


TAFSIR  Al-Qur'anul Majid 

"AN-NUR"




Tafsir Al-Qur'anul Majid atau yang lebih dikenal dengan nama TAFSIR AN-NUR ini adalah salah satu karya monumental ulama Indonesia asal Aceh, iaitu Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddiegy.

Tafsir An-Nur pertama kali terbit pada tahun 1956. Ini adalah kitab tafsir lengkap pertama karya ulama ahli tafsir Indonesia yang diterbitkan di Indonesia. Tafsir ini mudah dicerna oleh semua golongan masyarakat, dari para peneliti sampai para pemula. Tafsir inilah pula yang menjadi rujukan Terjemah Qur'an Departemen Agama Indonesia yang pertama tahun 1952.

Tafsir An-Nur menggunakan dua metode sekaligus, yaitu mudhi'i tahlili karena dibuat berdasarkan urutan dan susunan Al-Qur'an, ayat per ayat dan surah per surah, dan dengan bentuk penyajian yang rinci, dan juga metode maudhu'i (tematik) karena sebelum menjelaskan tafsir suatu surah terlebih dahulu dijelaskan gambaran umum surah tersebut.

Tafsir ini juga dapat digolongkan sebagai at-tafsir bil ra'y (tafsir berdasarkan ijtihad), walaupun tidak semua ayat dijelaskan dengan metode tersebut. Dapat pula digolongkan sebagai at-tafsir bil-ma'tsur (tafsir dengan riwayat), yaitu penjelasan suatu ayat dengan ayat lain atau dengan hadits dan atsar yang shahih.

Dalam kitab tafsir ini Hasbi ash-Shiddieqy banyak mengutip dari rujukan-rujukan mu`tabar (otoritatif). Sebut saja di antaranya, tafsir Jami` al-Bayan karya ath-Thabari, Tafsir al-Qur’an al-`Azhim karya Ibnu Katsir, tafsir al-Qurthubi, tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari, dan at-Tafsir al-Kabir karya Fakhruddin ar-Razi. Tidak hanya tafsir klasik, tafsir ulama muta’akhkhirin juga menjadi sumber ash-Shiddieqy, seperti, tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridha, tafsir al-Maraghi, tafsir al-Qasimi, dan tafsir al-Wadhih. Selain kitab-kitab tafsir, ia juga merujuk kepada kitab-kitab induk hadis yang mu`tamad (dipercaya), semisal, kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan kitab-kitab as-Sunan.

Melihat sederet rujukan yang digunakan, tampaknya T.M. Hasbi ash-Shiddieqy menggarap karya tafsirnya ini dengan sangat serius, terlebih lagi ia mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam bidang ushul at-tafsir, yaitu ilmu yang mempelajari media-media yang diperlukan untuk menafsirkan al-Qur’an. Karenanya, wajar bila Tafsir an-Nur menjadi sebuah karya yang cukup diperhitungkan dan menjadi rujukan kalangan intelektual di Indonesia.

Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nur, sebagai sebuah kitab tafsir yang ringkas namun lengkap, menjelaskan apa yang dimaksud tiap-tiap ayat. Pembahasan ayat disertai keterangan hadits, dalil, dan pendapat yang kuat.

Untuk membantu para pemula dalam membaca dan mendalami Al-Qur'an, kitab Tafsir An-Nur ini dilengkapi pula denganbtransliterasi huruf ke Arab ke dalam huruf latin.

 Sumber; http://www.cordova-bookstore.com/cakrawala/tafsir_annur.htm

Monday, November 14, 2011

Kitab Sair al-Salikin Ila ‘Ibadat Rabbil ‘Alamin - karya Syeikh Abdul Shomad al-Falimbani


Sair al-Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin adalah merupakan sebuah karya agung tasawwuf didalam bahasa Melayu. Sebuah karya yang sangat terkenal di Nusantara. Kitab ini terdiri daripada 4 juzuk sebagaimana juga kitab ihya.

  • Juzuk pertama yang menyatakan ilmu ushuluddin dan segala perkara berkaitan dengan ibadat yang zahir – ditulis pada 1193H/1779M dan siap pada awal tahun 1194H/1780M di Mekah.
  • Juzuk kedua yang menyatakan adat yakni pada menyatakan hukum dan adab yang berlaku pada adat seperti makan-minum dan sebagainya - mulai ditulis pada 1194H/1780M dan selesai pada hari Sabtu, 19 Ramadan 1195H/1781di Thaif.
  • Juzuk ketiga pada menyatakan muhlikat yakni perkara-perkara yang membinasakan sekelian amal - mulai ditulis pada tahun 1195H/1781M dan diselesaikan pada 19 Safar 1197 H/1783 M di Makkah.
  • Juzuk keempat pada menyatakan munjiyat yakni perkara-perkara yang melepaskan daripada yang membinasakan sekelian amal - Syaikh Abdusshamad tidak menyebut tahun ia mulai menulisnya, tetapi beliau selesai menulisnya pada 20 Ramadan 1203H/1788 di Thaif.
Sebahagian besar isi kandung kitab ini adalah merupakan terjemahan daripada Lubabul Ihya iaitu mukhtasar (ringkasan) kitab Ihya Ulumiddin. Namun Syaikh Abdusshomad juga menaqalkan dari kitab-kitab lain. Antaranya yang sempat al-Faqir kutip sepintas lalu adalah:- Kitab-kitab karangan Imam al-Ghazali seperti Ihya Ulumiddin, Bidayah al-Hidayah, Madhmun, Jawahirul Qur’an, Minhajul ‘Abidin, Arbai’in fi Ushuliddin dan sebagainya; Al-Fushulul al-Ilmiyyah wa al-Ushuulul Hukmiyyah oleh al-Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad; Ghaits al-Mawahib al-‘Aliyah fi Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah oleh Ibn ‘Abbad; Al-Fusul al-Miftahiyyah wa al-Nafahat al-Ruhaniyyah oleh Syaikh Hussin bin ‘Abdullah BaFadhal; Sairus Suluk oleh Syaikh Qasim al-Halabi; Al-Durruts Tsamin fi Bayani al-Muhim min ‘Ilmiddin oleh al-Habib ‘Abdul Qadir al-‘Aidarus; Iqna oleh Syaikh Khatib al-Syarbini; Minhajul Qawim oleh Syaikh Ibn Hajar al-Haithami; Al-Ghunyah oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani; Syarh al-Raudhu al-Thalib oleh Syaikh Zakaria al-Anshari; Tuhfatul Muhtaj oleh Syaikh Ibn Hajar al-Haithami; Hikam oleh Ibn ‘Athoillah; Raudhah al-Thalibin oleh Imam Nawawi; Nashoih al-Diniyyah oleh Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad; Futuhatul Makkiyah oleh Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi; Uhud al-Muhammadiah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Hikam Ibn Ruslan; ad-Da'wah at-Tammah wa Tazkiratul 'Aammah oleh Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad; Hikam Abi Madyan; Risalah al-Makkiyah oleh Syaikh Tajuddin al-Naqsyabandi; Al-Nafahat al-Ilahiyyah fi Suluk al-Thariqah al-Muhamadiyah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Karim al-Samman; Hidayatul Ahbab Fima Lil Khalwati Minas Syuruthi wal Adab – Syaikh Musthafa al-Bakri; Adabul Murid oleh Abu al-Najib Abdul Qahhar bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Sahruwardi; Al-Fushul al-Fathiyyah oleh al-‘Arifbillah asy-Syaikh Hussin bin ‘Abdullah BaFadhal; Al-Minahus Saniyyah ‘ala al-Wasiyyah al-Matbuliyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Risalah Asrarul ‘Ibadah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Karim al-Samman; Risalah Anwarul Qudsiyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Madarij al-Salikin oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Fath al-Rahman Syarah Hikam Ibn Ruslan oleh Syaikh Zakaria al-Anshari; Al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Bayani ‘Aqaid al-Akhbar- Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Masyariqul Anwar al-Qudsiyah fi Bayani ‘Uhudil Muhammadiyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Zahrul Basim oleh Sayyid ‘Abdul Qadir; Al-Minan al-Kubra oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Al-Amin fi Intifa’il Mayyiti Bil Qur’anil ‘Adzim oleh Syaikh Abdurrahman al-Tahawi dan banyak lagi yang tidak sempat al-Faqir kutip dan senaraikan disini.

Di dalam kitab ini juga, Syaikh ‘Abdusshomad telah mengkategorikan kitab-kitab tasawuf kepada 3 peringkat iaitu untuk dipelajari dan dikaji oleh golongan mubtadi, mutawassith dan muntahi. Adapun kitab yang beliau karang ini, beliau kagetorikan sebagai kitab lanjutan yang patut dikaji bagi murid yang mubtadi setelah mempelajari dan mengkaji kitab Hidayatus Salikin yang juga dikarang oleh beliau.

Walaupun kitab ini sudah berusia lebih 200 tahun, namun kandungan kitab ini bernilai tinggi dan bersifat ilmiyah tasawuf yang cukup mantap serta masih segar, relevan dan terkehadapan untuk dijadikan panduan generasi kini. Oleh kerana itu ia masih dicetak dan beredar dipasaran kitab. Bagi meraikan kemampuan generasi sekarang yang ingin mempelajari kitab yang sangat bermanfaat ini, maka beberapa ulama dan penerbit kitab telah mengambil initiatif untuk mentahqiq, mentakhrijkan hadits-hadits, mengolah ayat dan sebagainya dan juga mentransliterasikan ke tulisan rumi seperti yang diusahakan oleh Ustaz Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari al-Maliki an-Nadwi. Seterusnya beliau telah menerbitkannya di dalam dua versi iaitu jawi [dengan tulisan jawi moden] dan rumi. Usaha yang sama juga telah dilakukan oleh Penerbitan Pustaka Nasional di mana perbaikan bahasanya telah dilakukan oleh Ustaz Muhammad Labib dan seterusnya ditahqiq oleh al-Habib Sayyid Ahmad Semait.

Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani telah menulis pujiannya kepada pengarang kitab ini, Syaikh Abdusshamad al-Falimbani dan kitab Sairus Salikin ini, tatkala beliau mentahqiqkan kitab ini untuk dicetak pada zamannya ....

[D]ialah tuan itu yang mendapat pangkat kelebihan dan yang sangat nyata pada sekalian sifat kemuliaan dan berbekas usahanya berkekalan

[D]ialah tuan itu patut terpuji dengan sedia dan mengeluarkan zahir dan bathin beberapa daripada rahsia

[D]ialah yang yang ketunggulan pada masanya dan empunya taqwa, amal ibadat dan shalih, dan khusyu’ tawadhu’ dan tazalullnya

Tiadalah dapat dibandingkan pada masa itu

Tasarruf lidahnya berzikir kebanyakkan waktu

Dan sentiasa muraqabah pada Tuhan yang satu

Dan merata ia pada faidh kelimpahannya pada khas dan am

Dan tentulah kebajikannya dan budinya ‘alad dawam

Betapakah tiada yang demikian itu, kerana telah membukakan ia akan jalan ahli sufiyah kepada sekelian yang bodoh yang tiada mengerti [bahasa] ‘Arab. Senanglah kiranya engkau berbuat ‘amal dan dapatlah mengerti sekalian hal ehwal thariqat sufiyyah. Dan mudah-mudahan dapat hidayah engkau mengikut jalan mereka itu. Tiadalah jadi kebingungan ditipu oleh sekelian ahli bid’ah dan munafiq yang nyata sesat dan keji.


Beruntung besarlah kiranya bagi engkau mendapat kitab ini, bagi meng[h]ilangkan didalam kelupaan supaya tersedar dan ingat kepada Tuhan engkau. Maka terkayalah daripada mencari kitab-kitab yang lain, kerana sempurna mengandung empat rubu’ seperti yang tersebut didalam ihya. Maka seyogialah bagi yang menaruh ketinggian himmah dan ‘asyiq mengetahui sekelian ilmu ahli sufiyyah yang dihurai daripada pertambatan daripada sesat dan kesamaran yang tiada terbeza didalam fikiran. Bersegeralah ia mencapai kitab ini yang bersifat keelokkan dan megah sekelian perkataan. Dan ibarat yang indah-indah masyhur daripada bahasa Melayu yang sangat mudah.


Dahulu daripada thaba’ ini jaranglah mendapatnya, jika adapun tertentu dengan harga yang mahal. Syukurlah kita kepada Allah Subhanahuwa Ta’ala bi aunihi wa karamihi,

Dengan pertolongan [D]ia dapat dengan mudah,


Daripada mahal menjadi murah


Dan daripada gelap menjadi cerah


Maka sekarang ini lazimlah kamu sekelian mendapatinya


Maka daripada yang maklum, bahwasanya yang berulang-ulang itu terlebih manis dan baiknya. Ketahui olehmu hal sekelian saudara kami, bahwa thaba’ ini terlebih ashah daripada sekelian mathabi’. Istimewa pula kami muqabalah dengan barang yang muharrar akan dia atas asal naskhah asy-Syaikh ‘Abdul Qadir [bin ‘Abdurrahman [al]-Fathani pada ketika ia mengajarnya.


Kitab al-Mushannaf

 
al-Mushannaf atau kata jamaknya al-Mushannafat merupakan kitab-kitab hadis yang disusun secara ringkas dalam beberapa bab fiqh dan agama. Tertib susunannya itu tidak lengkap dan tidak secara khusus. Manakala, topik yang dibentangkannya pula tidak lengkap sepertimana susunan kitab Jami’  yang merangkumi semua topik agama dalam pelbagai bidang seperti topik ilmu, iman, ibadah, jihad dan sebagainya.

Malahan, susunannya juga tidak lengkap dalam topik fiqh sepertimana kandungan yang dipaparkan dari kitab-kitab  Sunan. Kitab-kitab hadis yang dikumpul dalam bentuk mushannafat, antaranya seperti berikut:   

i)             Musannaf – Waki’ bin al-Jirah (w197H)

ii)           Musannaf – Hammad bin Salamah (w167H) 

iii)          Musannaf – al-Imam Abd al-Razzaq bin Humam al-Saghani (w211H)

iv)          Musannaf – Sulaiman bin Dawud al-‘Itki (w234H)

v)           Musannaf  – Abu Bakar Ibn Abi Syaibah, Abdullah bin Muhammad 
                al-Ibsi al- Kufi      (w235H)

vi)         Musannaf – Baqi bin Makhlad al-Andalusi (w276H), Ibn Hazm   
               al-Andalusi  sendiri lebih mengutamakan musnad ini dari 
               musannaf-musannaf yang lain.

Terdapat di dalam musannafat ini berbagai hadis yang bertaraf marfu’, mauquf dan juga maqthu’. Oleh itu, sebaiknya dibaca hadis yang telah ditahqiq (disemak) oleh para muhaddis seperti Syeikh Nasaruddin al-Albani rhm dan para ulama yang lain.

Semoga Allah merahmati kita dan mereka semua. Amin!